Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #11 Tantangan Hari #11


•Ajari Anak Memahami Tubuhnya Sendiri•

Pembahasan tentang penyimpangan seksual kemarin masih membekas. Dimana salah satu penyebabnya adalah Sang Anak pernah menjadi korban. Tak jarang pelaku pun orang terdekat mereka. Kasus ini terkait dengan video yang saya tonton dari YouTube.

Pengamat pengasuhan dan pendidikan anak, Elly Risman dalam pemaparannya di Net TV juga memberikan tips tentang mencegah terjadinya tindakan tersebut. Anak diharapkan dapat terlebih dahulu memahami tubuhnya sendiri. Dengan ini, anak dapat menjaga tubuhnya sendiri dari perlakukan buruk orang lain.

Berikut adalah caranya:
Sentuhan baik adalah yang menyentuh tubuhmu dari bahu ke atas, kemudian dari lutut ke bawah.
Sentuhan yang membingungkan adalah yang menyentuh tubuhmu dari bawah bahu hingga atas lutut.
Sentuhan yang buruk adalah menyentuh tubuhmu yang tertutup baju renang.

Contoh peragaan lengkapnya dapat dilihat pada link berikut:


Kemudian, setelah anak tahu bagaimana rasa sentuhan itu setelah role play bersama orang tua, ajarkan reaksi mereka.

Jika kondisi sentuhan baik, maka respon baik. Sementara saat membingungkan, sebaiknya menghindar dan menolak. Apalagi kalau sentuhan buruk, maka harus menolak lebih keras dan meminta pertolongan orang dewasa yang dikenal.

Dalam penyampaiannya, anak harus kita ajarkan dengan praktek, bukan hanya sekedar kata-kata. InsyaaAllah dengan ini mereka dapat melindungi dirinya sendiri dari perilaku buruk seksual.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang