Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #11 Tantangan Hari #9



•Pengaruh Media Digital Terhadap Fitrah Seksualitas•

Pembahasan materi Fitrah Seksualitas malam ini sangatlah menarik. Mengapa? Karena terkait dengan media digital yang dewasa ini menjadi tantangan terbesar para orang tua.

Apakah itu Media digital?
Media digital adalah media yang dikodekan dalam format yang dapat dibaca oleh mesin (machine-readable).

Media digital dapat dibuat, dilihat, didistribusikan, dimodifikasi dan bisa bertahan pada perangkat elektronik digital. Proses digital menggunakan logika Algoritma.

Contoh media digital adalah program-program komputer dan perangkat lunak seperti:
- citra digital, digital video
- video games
- halaman web dan situs web, termasuk media sosial
- data dan database
- digital audio, seperti mp3, mp4 dan
- e-buku
 (University of Guelph, 2006 cited in Wikipedia, 2019)

Lalu, apakah media sosial memiliki manfaat?
Berikut adalah pengaruh positif media digital terhadap Fitrah Seksualitas:
Dapat menjadi sarana mengajarkan anak tentang:
• mahram,
• batasan aurat laki–laki dan
perempuan,
• bagian tubuh yang boleh disentuh,
• fitrah keayah-bundaan.

Namun, dari sekian banyak hal-hal positif yang didapatkan dengan tersedianya Media Digital, terdapat pula pengaruh negatif yang ditinggalkan.

Berikut adalah pengaruh negatif media digital terhadap Fitrah Seksualitas:
● Pergeseran identitas
Kasus ekstremnya adalah maraknya LGBT
● Pubertas dini
Bisa terjadi karena paparan pornografi
● Resiko eksploitasi seksual anak

"Orang tua diharapkan mampu melindungi anak-anak dari ancaman era digital, tetapi tidak menghalangi potensi manfaat yang bisa ditawarkannya."
anonim (dari buku Saku Mendidik Anak di Era Digital (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).

Demi mendapatkan manfaat optimal dari media digital, tapi tetap terjaga dari dampak negatif yang juga ditimbulkan, berikut adalah “Panduan Membersamai Anak di Era Digital”:
  • Orang tua membuat kesepakatan dengan anak
tentang penggunaan dan waktu penggunaan gadget
  • Orang tua menjalin komunikasi dengan pihak sekolah & lingkungan (masyarakat). Supaya sikap, perilaku & tindakan anak tetap terkontrol dengan baik di sekolah & di lingkungan tempat anak bermain dengan temannya.
  • Orang tua menunjukkan teladan yang baik & positif bagi anak.
  • Orang tua harus konsisten dalam memberikan contoh yang positif dalam memanfaatkan media sosial serta menjalankan kesepakatan yang sudah dibicarakan bersama anak.
  • Orang tua perlu mendampingi & memantau aktivitas anak dalam mengakses atau menggunakan media sosial.
  • Kehadiran orang tua untuk mengarahkan anak memanfaatkan media tersebut secara positif.

Lalu Bagaimana Batasan Usia dan Durasi Penggunaan Gadget?

Merujuk pada referensi Yayasan Kita dan Buah Hati, serta American Academy of Pediatric:
0-2 tahun (no gadget)
3-5 tahun (maksimal 10 menit)
5-7 tahun (maksimal 20 menit)
7-9 tahun (maksimal 30 menit)
9-12 tahun (maksimal 1 jam)
12-15 tahun (maksimal 2 jam)

Merujuk pada Buku Antipanik Pada Bayi, Tabel Screen Time:
0-2 tahun (Sama sekali tidak Direkomendasikan)
2-3 tahun (30 menit sehari dengan games yang edukatif)
3-5 tahun (1 jam sehari dengan games yang dipilih oleh anak di bawah pengawasan orang tua)
> 5 tahun (maksimal 2 jam sehari)
           
TANTANGAN
Tantangan era industri dan digital saat ini dalam mendidik Fitrah Seksualitas adalah:
• Peran orang tua dalam pengasuhan semakin berkurang dan dialihkan pada pihak ketiga, seperti guru, ustadzah.
• LGBTQ
• Kejahatan seksual
• Kemudahan akses dunia digital di tangan anak-anak kita.

 Sumber
• Wikipedia (2019) Media Digital [Online]. Available at: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Media_digital (Accessed: 27 Februari 2020)
• Dyna dkk dalam Madani (2019), Literasi Digial, Mendidik Anak di Era Digital bagi Orang tua Milenial, Jurnal Politik dan Sosial Kemasyarakatan Madani, 11, 134-136.
• Rustam DKAH, Jurnal Al-Ahkam (2016), LGBT di Indonesia : Perspektif Hukum Islam, HAM, Psikologi, dan Pendekatan Maslahah, 26, 226.
• Muhammad DIb, Laila. 2019. "Menumbuhkan Fitrah Seksualitas Anak" dalam Jejak Langkah Bunda Sayang: Jurnal Institut Ibu Profesional Cetakan 1 (hlm. 153). Salatiga: KIPublishing.
• Liputan 6.com (2019). Available At:
https://m.liputan6.com/lifestyle/read/4176247/hari-internet-aman-sedunia-5-ancaman- ini-mengintai-anak-di-dunia-maya?medium=dable__mobile&campaign=related_click_1. (Accessed: 27 Februari 2020)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…