Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #11 Tantangan Hari #7



•Mempersiapkan Ananda Menuju Masa Baligh•

Presentasi malam disampaikan oleh kelompok yang membahas tentang Baligh dan Aqil. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah “Apakah arti Baligh dan Aqil?

1. Baligh

Berikut adalah penjelasan “Bulugh”
  • Kondisi tercapainya kedewasaan Biologis dengan kematangan alat reproduksi (Santosa, 2018) atau Physical Maturity.
Sementara itu “Baligh/h
  • Orang yang telah mencapai masa kedewasaan dan memikul tanggung jawab penuh (atas segala tindakannya) dalam hukum islam (Oxfordislamicstudies.com)

   
 2. Aqil

Berikut adalah penjelasan “Aqil”
  • Kondisi tercapainya kedewasaan psikologis,sosial, finansial serta kemampuan memikul tanggung jawab syari'ah (Santosa, 2018)
Sementara itu “Rushd”
  • Islamic legal term for Maturity of mind, meaning to find the right path, to act cleverly, to be mature mentally and spiritually, to have the quality to attain good deeds, to take necessary measures to protect one's property and to prevent extravagance. Aperson who has these qualities is called rashid.
Sedangkan “Aql >< safih”
  • Safih means a person who is sane and has the power to discriminate but who uses his money and property irrationally and illogically.


Kemudian kita sering mendengar tentang pasangan kata “ AQIL-BALIGH”, yang dijelaskan bahwa kondisi aqil tiba bersamaan dengan baligh (Santosa, 2018)

Pertanyaan selanjutnya adalah, “Kapan terjadi Baligh?”
  1. Internal change, yaitu keluar air mani (baik dalam kondisi terjaga, tidur, karena jimak (hubungan biologis), ihtilaam, atau selain itu) tambahan pada perempuan: haid/menstruasi
  2. Age (Umur) mencapai 15 tahun
  3. Perubahan fisik, dimana tumbuh rambut kasar pada kemaluan

Namun, pada kenyataannya saat ini terdapat banyak sekali kondisi yang berbeda. Seperti halnya contoh berikut:
  • Perubahan terjadi pada waktu yang tak bersamaan, dimana banyak anak yang baligh tapi tidak diiringi dengan aqil.
  • Terdapat Gap, yaitu ketika Baligh terjadi di usia 12-14 tahun sedangkan aqil terjadi di usia 22-24 tahun
  • Baligh lebih cepat terjadi karena asupan makanan yang tak sehat serta terpapar pornografi dan pornoaksi


Lalu bagaimana dengan Konsekuensi Baligh?

Ketika anak sudah muncul dorongan/ kebutuhan seksual, maka hanya bisa dipenuhi dengan menikah. Sementara itu, menikah butuh “rushd” dimana jika belum mampu menikah, perlu pengetahuan akan konsekuensi dorongan seksual dan bagaimana cara menahannya.

Anak yang sudah Baligh, dikenakan kewajiban (accountable for) beribadah dan mematuhi larangan. Ia harus mampu membedakan benar-salah baik-buruk, mampu berdiri tegak atas larangan dan perintah, serta mengetahui kewajiban yang dikenakan atas dirinya.

Setelah pemaparan tentang Aqil dan Baligh tersebut di atas, pertanyaan terakhir adalah “Bagaimana persiapan anak ketika memasuki kondisi Baligh?”

Hal yang paling utama adalah menanamkan nilai tanggung jawab yang bermula dari kecintaan terhadap diri dan milik sendiri. Kemudian tanamkan rasa syukur yang disusul dengan rasa berjuang untuk mendapatkan sesuatu. Orang tua perlu mengingatkan atas nikmat yang diperoleh yang mungkin orang lain tak bisa peroleh. Anak juga perlu diajarkan untuk menunggu, meminta, dan sabar atas pemenuhan permintaan.
  
Sehingga akhirnya muncul beberapa hal yang perlu ditanamkan:
  1. Kemandirian
Misalnya dalam Berorganisasi, Memecahkan masalah, Tanggung jawab, Mencari Nafkah.
  1. Nilai benar-salah
Landasan atas nilai benar dan salah dan tentang perintah serta larangan.

Adapun Metode Pendidikan yang diharapkan dapat menyeimbangkan antara Aqil dan Baligh, yaitu melalui dua tahap berikut:

  1. Proses
  • Pemberian tugas
  • Berikan pelajaran
  • Biarkan anak melaksanakan tugas pengalaman 
  • Biarkan anak meraih berdasarkan pengalaman

  1. Sikap
  • Berani dan tega
  • wariskan jalan sukses
  • kenali kapasitas diri (jika tak sanggup serahkan pada tenaga pengajar ahli)

Demikianlah resume presentasi hari ini yang cukup mencerahkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2

•Game Level #2 Tantangan Hari #2• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan. . “Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?” Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja. “Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?” Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.” “Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.” “Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek. “Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.” “Ah, gak mau ah, ayam aja deh…” Pak suami yang duduk di samp