Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #11 Tantangan Hari #6



•Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Membangkitkan Fitrah Seksualitas•

Alhamdulillah, selesai sudah presentasi kelompok 4 pada Materi Level #11 di Kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional Depok. Pada awalnya, aku merasa khawatir, sungkan, bahkan takut, karena kelompok baru saja dibuat secara acak. Beberapa orang belum pernah berkomunikasi sama sekali, bahkan baru tahu kalau namanya termasuk dalam daftar mahasiswa.

Namun, semua berjalan dengan lancar, mulai dari persiapan, pengumpulan materi, hingga pelaksanaan presentasi. Semua anggota kelompok berperan sesuai dengan kemampuannya dan kesanggupannya masing-masing. Walaupun dengan alokasi waktu yang cukup singkat, kami bisa presentasi dengan optimal. MasyaaAllah… Tabarakallah… 

Berikut terlampir adalah materi presentasi yang disampaikan kepada rekan-rekan di Kelas Bunda Sayang Batch #5 Depok.



Closing Statement:

Ayah sering dianggap perannya tak sebesar ibu. Namun tanpanya, apalah daya ibu yang juga sangat butuh suplai cinta darinya ❤

Tanpa ayah di rumah pun, kita bisa makan, minum, bermain dan tidur dengan nyaman

Namun sering kita lupa, kehadirannya membawa energi bermain yang menggerakkan, nafkah darinya mengalir dalam darah dari makanan yang kita makan, bimbingannya menyelimuti kita dengan pakaian taqwa yang kita kenakan. 

Kepercayaan diri, kepemimpinan, ketangguhan ketegasan mengambil keputusan dan kedisiplinan adalah maskulinitas yang perlu dimiliki baik lelaki maupun perempuan dalam kadarnya agar dapat hidup seimbang meraih tujuan ❤

Bicara tentang ayah, bukan lagi hanya tentang kualitas dan kuantitas Tapi lebih kepada kehadiran utuh dari fisik, psikis, dan fikriyah ayah.. Namun Tuhan maha mengerti, upayalah yang kita beri sebagai bukti. Karena banyak kondisi ayah bukan tak ingin, namun memang tak mungkin. ✨

Yuk dukung para ayah! Para suami di rumah...izinkan mereka dapat kepercayaan penuh mampu mengasuh anak-anak kita. Mereka punya caranya. ✨

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…