Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #11 Tantangan Hari #3

•Peran orangtua Dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas•

Bismillaahirrahmaanirrahiim...⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Berikut adalah resume dari presentasi Kelompok 3, malam ini.

Bicara tentang Fitrah, marilah terlebih dahulu mengacu pada QS. Ar-Ruum ayat 30.
Maka hadapkanlah wajahmu pada agama dengan hanif (lurus), (tetaplah) pada fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan (khalq) Allah. Itulah agama yang qoyim (kokoh). Namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Ar-Ruum:30)

Kemudian satu per satu memahami istilah “Fitrah”, “Seksualitas”, dan “Fitrah Seksualitas”.
Fitrah secara harfiyah berarti (sifat asal; kesucian; bakat; pembawaan). Fitrah adalah kondisi yang diciptakan Allah SWT sesuai kepribadian anak yang sesungguhnya telah ada sejak lahir. Diantaranya fitrah iman, belajar,bakat, seksualitas, dll.  

Sementara itu, Seksualitas secara harfiyah ciri, sifat, atau peranan seks;  dorongan seks; kehidupan seks. Seksualitas adalah totalitas kepribadian, seperti apa yang dipercayai, dirasakan, dan pikirkan. Seksualitas juga tertampil ketika berdiri, tersenyum, berpakaian, tawa dan menangis. Kemudian, seksualitas juga menunjukkan bagaimana seseorang berbudaya, bersosial, dan berseksual, serta menunjukkan siapa dirinya. Seksualitas berbeda pengertiannya dengan seks, yang merupakan segala sesuatu berhubungan dengan alat kelamin. Menjadi laki-laki atau perempuan.

Dengan ini, Fitrah Seksualitas dapat berarti cara bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Namun, saat ini banyak sekali tantangan berupa terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan akibat dari tidak terinternalisasinya fitrah seksualitas tersebut.

Apa yang menyebabkan tantangan-tantangan itu terjadi? Tentu tak hanya dari faktor internal, tetapi juga faktor eksternal. Berikut adalah penjabarannya:

FAKTOR EKSTERNAL
1. Pengaruh lingkungan yang tidak sesuai pola pengasuhan di rumah
2. Maraknya LGBT
3. Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah

FAKTOR INTERNAL
1. Ayah dan ibu belum berperan aktif dalam mendidik dan mengasuh anak sesuai gender
2. Peran ayah dan ibu tertukar
3. Ibu berperan ganda
Oleh karena itu, Dalam mendidik fitrah seksualitas, sosok ayah dan ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai Aqil Baligh. Sedangkan dalam proses pendidikan berbasis fitrah, mendidik fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda-beda pada tiap tahapannya.

Pra-Latih (0-7 tahun)
1. Dekat dengan ibu 0-2 tahun, karena sedang melalui proses menyusui.
2. Dekat dengan ayah Dan bunda 3-6 tahun. agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun. 
3. Kenalkan organ tubuh ketika mandi dan bersuci. 
4. Jelas pembagian peran di rumah antara ayah dan bunda. 
5. Mengenalkan batas aurat laki-laki Dan perempuan. 
6. Melatih tidur sendiri. 
7. Menjaga hubungan suami istri di depan anak2.

Pre-Aqil Baligh (7-14 tahun)
1. Laki-laki didekatkan dengan ayah, perempuan didekatkan dengan ibu. 
2. Dikenalkan dengan batasan aurat laki-laki dan perempuan dan rasa malu. 
3. Tidur terpisah dengan orangtua. 
4. Melatih peran sebagai laki-laki dan perempuan. 
5. Dilatih untuk mengerjakan pekerjaan di rumah. 
6. Diberikan pemahaman tentang pubertas (haid dan mimpi basah). 
7. Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak lelaki, Dan feminitas pada anak perempuan. 
8. Dikenalkan dengan fungsi organ seksual (sex education). 
9. Orangtua harus kenal dengan siapa mereka bergaul.

Tahap Kritikal (10-14 tahun)
1. Pemisahan kamar tidur 
2. Memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan shalat 
3. Anak lelaki didekatkan ke ibu 
4. Anak perempuan didekatkan ke ayah

Setelah penjabaran di atas, terdapat beberapa pertanyaan yang membuka sebuah proses diskusi yang menarik. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan beserta jawaban yang dengan sangat baik telah dijawab oleh kelompok penyaji materi.

  1. Jikalau orang tua yg hadir hanya single parent (ibu saja atau ayah saja), selain menghadirkan sosok yang hilang itu, bagaimana yang harus dilakukan seorang single parent untuk mengenalkan dan menumbuhkan fitrah seksualitas tsb?

Menurut kami, bisa didekatkan dengan pengganti yg hilang.
Misal anak yatim (seperti Rasulullah SAW), dekat dengan paman dan kakeknya.
Pun sebaliknya, kalau piatu bisa didekatkan dengan bibi, nenek, atau kerabat lainnya.
Atau melalui pernikahan kembali jika memungkinkan.
Atau juga dengan menghadirkan sosok ayah, kalo dari materi kami dijelaskan bahwa adanya sosok yang menjadikan anak mendapatkan perhatian dan kelekatan yg cukup.

  1. Bagaimanakah caranya menumbuhkan maskulinitas pd seseorang yg sudah melewati masanya? Apakah masih memungkinkan jika baru ditanamkan saat sudah baligh? Jika kasusnya utk anak didik, apakah ada tips n triknya tersendiri? Terima kasih sebelumnya 🙏🏼

InsyaAllah masih mungkin (mengingat kejadian yg menyimpang -naudzubillahi min dzalik- jg mungkin baru terjadi saat remaja ke atas). Meskipun tetap lebih baik pondasi fitrah seksualitas dibangun sejak dini.

Caranya adalah dengan pelekatan kembali orangtua terhadap anak. Membuat nyaman anak agar bisa terbuka terhadap orang tua sehingga orangtua bisa mengulang proses yang sudah terlewat sesuai usianya.
Kembali kepada definisi seksualitas dalam KBBI, yakni memberikan ciri (sesuatu yg bisa mudah dikenali seperti jenis pakaian, mengenalkan sifat (perempuan sejati seperti apa, lelaki seperti apa), dan peran masing2

Memang harus ada effort lebih untuk “restart” proses yang terlewat namun disesuaikan usia anaknya

✨Tipsnya, guru menceritakan pada orangtuanya agar bisa kolaborasi.

Di rumah orangtua melaksanakan perannya, di sekolah pun guru membantu.
Misal dengan membagi kelompok sesuai gendernya.
Atau memberikan tugas yang membuat si anak menyadari fitrahnya. Misal olahraga dengan pak guru/ayah, berpetualang, dll

  1. Adakah referensi tentang pembagian peran ayah dan ibu di rumah? Atau mungkin key point yang perlu diperhatikan soal peran ayah-ibu di rumah? Hatur nuhun 😘

Closing Statement :



Ibarat seperti mengemudikan sebuah pesawat. Ayah berperan sebagai pilot, dan ibu adalah co-pilotnya. Anak2 merupakan penumpang yang dititipkan Tuhan untuk kita hantarkan sampai tujuannya. Apa? Menjadi khalifah-Nya. Pilot dan co-pilot harus bersinergi dalam kerjasama membaca navigasi beserta sistem kemudinya (arah tujuan keluarga masing2). Mendampingi ayah sebagai teman belajar ayah dalam membangkitkan fitrah seksualitas salah satu bagian dari sistem kemudi tersebut. Bagaimana anak2 tumbuh, berkembang dan belajar mengenai sexualitas sangat membutuhkan peran yabg seimbang dari ibu dan ayahnya. 

Belajar dari banyak kasus2 yang terjadi seperti “hilangnya figur ayah”, dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk membuat atau mengembalikan pengetahuan fitrah sexualitas seorang anak.

Percayalah bunda.. Tuhan Tak Pernah Salah Memilih pundak amanah untuk kita sebagai orang tua. Mendidik mereka menjadi manusia yang bermartabat dan bermanfaat bagi umat. Insha Allah. 😊

Peran dan konsep ayah yang KUAT…bisa kita lihat dari pak Dodik ke bu Septi…  

Lihat deh… 

Apakah pak dodik tidak memiliki peran?!…

Kan jelas pak Dodik adalah konseptor…

Dan bu Septi sang ibu adalah pelaksana yaitu manajer lapangan… 

Sebagai pelaksana atau manajer lapangan wajar sekali jika ibu yang terkesan “repot” dari awal…

Tapi bapak ga diam saja toh…. 

Bapak menyiapakan segala sesuatunya… Menyiapkan sang ibu menjadi pelaksana dan manajer lapangan… Menyiapkan kurikulum keluarga… Menyiapkan fasilitas… Mengambil keputusan… 

Mengevaluasi hasil kerja sang ibu pelaksana manajer keluarga…

Jelas lebih berat dan lebih banyak tugas sang bapak bukan…


#iip ⁣⁣⁣
#hari3
#level11
#iipdepok ⁣⁣
#IIPxBundyta⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#gamelevel11
#kuliahbunsayiip⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#fitrahseksualitas
#tantangan10hari⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#bundytabercerita ⁣
#pendidikanseksual
#institutibuprofesional⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣
@institut.ibu.profesional⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
@ibuprofesional.depok

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…