Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #11 Tantangan Hari #10


•Penyimpangan seksualitas, pencegahan, dan solusinya•


 DEFINISI PENYIMPANGAN SEKSUAL

     Pe.nyim.pang.an
1. Proses, cara, perbuatan menyimpang/menyimpangkan.
2. Tindakan di luar ukuran (kaidah) yang berlaku

Sek.su.al
1. Berkenaan dengan seks (jenis kelamin)
2. Berkenaan dengan perkara persetubuhan antara laki-laki & perempuan

“Penyimpangan Seksual = Perilaku seksual yang menyimpang”


Berikut adalah 10 JENIS PENYIMPANGAN SEKSUAL

PEDOFILIA
Memiliki fantasi berlebihan tentang hubungan seksual dengan anak kecil atau anak remaja dibawah umur, baik pada laki-laki / perempuan.

AUTOGYNEPHILIA
Bagian dari jenis penyimpangan seksual transvestisme dimana seorang pria memiliki fantasi seksual dimana dirinya berperan sebagai wanita. Imajinasi ini pun membuatnya menjadi lebih terangsang saat berhubungan dengan wanita.

EKSIBISIONISME
Penderitanya merasa puas ketika menunjukan alat reproduksinya kepada orang asing dan cenderung dilakukan diam-diam di tempat umum.

ZOOFILIA
Seseorang memiliki kesenangan untuk melakukan hubungan seksual dengan binatang. Pecandu zoophilia dikaitkan dengan gejala gangguan mental.

FETISISME
Penyimpangan seksual yang melibatkan objek- objek buatan atau bagian tubuh tertentu untuk meningkatkan gairah seksual. Hanya dapat mencapai kepuasaan saat melakukan aktivitas seksual saat pasangannya memakai objek-objek fetish/ mengekspos bagian tubuh tertentu.

NECROPHILIA
Necrophilia berasal dari Bahasa Greek yaitu nekros yang berarti mayat dan philia yang berarti cinta. Necrophilia adalah jenis penyimpangan seksual paling ekstrim dimana seseorang memiliki kesenangan untuk berhubungan seksual dengan mayat.

TRANSVETISME
Penyimpangan dimana seorang pria heteroseksual atau pria normal cenderung ingin berpakaian wanita dalam aktivitas seksual atau aktivitas roleplay.

FROTTEURISM
Kelainan seksual dimana seseorang cenderung bergairah untuk menggosokan bagian intimnya pada orang asing dengan tujuan memenuhi kepuasan. Pelaku frotteurism akan berpura-pura tidak melakukan apa-apa, padahal saat proses itulah pelampiasan hasrat seksual mereka terjadi.

MASOKISME & SADISME
Memiliki penderitaan secara fisik dan psikologi, penghinaan, atau bentuk kekerasan yang dianggap dapat membangkitkan gairah seksual.

VOYEURISME
Perilaku dimana seseorang mendapat gairah atau kepuasaan seksual saat mengintip lawan jenis ketika korban sedang mandi atau tidak berbusana.


PENYEBAB PENYIMPANGAN SEKSUAL

  1. FAKTOR INTERNAL (POLA ASUH)

• Tidak adanya kedekatan seorang anak dengan orang tua (Kedekatan pararel akan membuat anak secara alami mampu membedakan sosok lelaki & perempuan, sehingga secara alamiah paham menempatkan diri sesuai seksualitas, baik cara bicara, berpakaian maupun merasa dan berfikir serta bertindak sebagai lelaki atau perempuan.)

• Ketiadaan peran orang tua yang sesungguhnya

• Single parents atau keluarga tanpa kelengkapan sosok ayah atau ibu yang utuh berpengaruh besar terhadap penyimpangan fitrah kewanitaan dan kelelakian

Hasil riset membuktikan bahwa anak yang tercerabut dari orang tuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, boarding school dan lainnya akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, perasaan terasing, perasaan kehilangan attachment, depresi dan kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan dan sebagainya.
    

  1. FAKTOR EKSTERNAL

• Pengaruh Lingkungan
Begitupula disekolah. Riset sederhana selama beberapa tahun terhadap kelas yang gurunya wanita semua, guru pria semua dan guru sepasang pria wanita menunjukkan bahwa kelas yang gurunya sepasang menunjukkan keseimbangan pertumbuhan emosional dan rasional yg lebih baik.

• Kesalahan informasi persepsi anak, atau pergaulan

CARA MENCEGAH TERJADINYA PENYIMPANGAN SEKSUAL

  1. MENDIDIK UNTUK MENJAGA PANDANGAN MATA
• Mengajarkan untuk menundukkan pandangan kepada lawan jenis & tidak melihat aurat orang lain
• Mengajarkan adab bergaul baik dengan lawan jenis / sesama jenis
• Memberikan batasan pergaulan
• Mengenalkan mahram & non mahram

  1. MELAKUKAN PENDIDIKAN SEKS SEJAK USIA DINI
• Kenalkan bagian tubuh dan fungsinya
Memberikan pelajaran tentang perbedaan terkait jenis kelamin terutama tentang bentuk tubuh & fungsi-fungsinya, termasuk menyebutkan nama alat kelamin dengan benar
• Ajari cara membersihkan alat kelamin
Membiasakan anak buang air di tolilet & membersihkan alat
kelaminnya dengan benar
• Tanamkan rasa malu sedini mungkin
Menjaga aurat anak dimanapun, mengajarkan mereka untuk
memiliki rasa malu apabila auratnya terlihat
• Beri tahu bagian tubuh yang boleh & tidak boleh disentuh oleh orang lain
Memperkenalkan aurat yang harus dijaga, termasuk bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain
• Beri tahu jenis sentuhan yang pantas dan tidak pantas
Memberi tahu ada sentuhan yang tidak boleh dilakukan. Termasuk orang tua, membiasakan untuk tidak menyentuh anak di daerah pribadinya apalagi jika sudah beranjak baligh
• Biasakan menutup aurat, berpakaian yang baik Berpakaian sesuai jenis kelaminnya, dan menutup auratnya
• Pahamkan tentang menstruasi dan mimpi basah
Mendampingi & memberikan penjelasan ketika anak mulai memasuki usia baligh.

  1. MEMBERIKAN KEHANGATAN & KEHARMONISAN DI DALAM RUMAH
• Keharmonisan hubungan Ayah & Bunda Bagaimana cara Ayah memperlakukan Bunda, begitupula sebaliknya akan berpengaru terhadap pembentukan sifat kelaki-lakian dan kewanitaan anak- anak.
• Membangun harga diri anak dari rumah
Harga diri anak harus diberikan & dibangun mulai dari rumah. Berikan apresiasi atas apa yang sudah dilakukannya, berikan afirmasi yang baik setiap harinya.
• Ayah sebagai role model
Ayah harus ikut hadir dalam pengasuhan. Untuk anak laki-laki Ayah akan menjadi role model untuk membentuk maskulinitasnya. Untuk anak perempuan, bagaimana Ayah memperlakukan ibu akan berpengaruh pada karakternya.
• Waktu yang berkualitas bersama keluarga
Miliki waktu yang berkualitas dengan anak-anak, privat time untuk masing-masing anak sehingga mereka merasa spesial dan berharga.

  1. MENANAMKAN JIWA KELAKI-LAKIAN & KEWANITAAN YANG BENAR
•Memberikan kesadaran tentang perbedaan hakiki dalam penciptaan manusia secara berpasangan laki-laki dan perempuan.
Hal tersebut akan sangat berguna bagi pergaulannya.
• Memberi nama anak sesuai dengan jenis
kelaminnya.
Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, ada hubungan yang erat antara nama dan yang dinamai. Penamaan anak yang salah gender menyebabkan anak berperilaku sesuai dengan namanya.
• Memberi anak perlakuan sesuai dengan jenis kelamin.
Pembentukan jiwa feminism pada wanita & maskulin pada laki-laki dapat dilakukan dengan pemberian peran kepada anak sesuai dengan jenis kelaminnya. Memberikan tugas sesuai dengan jenis kelaminnya seseorang akan menjadi laki- laki / wanita sejati.

  1. SELEKSI MEDIA YANG DIKONSUMSI ANAK
• Mendampingi anak saat melihat televisi & memilihkan acara yang pantas dilihat
• Tidak memberikan gadget pada anak di bawah umur
• Memastikan tidak ada media yang tidak pantas dilihat anak-anak pada gadget yang digunakan
• Memasang aplikasi khusus yang dapat membatasi dari konten-konten negatif, apabila gadget digunakan oleh anak

  1. MELAKUKAN PEMISAHAN TEMPAT TIDUR
•Biasakan tempat tidur dilakukan antara anak dengan kedua orang tuanya & antara anak dengan jenis kelamin yang bebeda
Salah satu tujuannya adalah agar mereka mampu memahami & menyadari eksistensi perbedaan anatra laik-laki & perempuan. Untuk anak dengan jenis kelamin yang sama pun disarankan untuk tidak menyatukannya dalam satu selimut atau satu tempat tidur
•Biasakan anak untuk tidak bebas keluar
masuk kamar orang tua tanpa izin
Adab meminta izin berkaitan denagn pembiasaan menghargasi privasi orang lain. Orang tua juga perlu berhati-hati dalam melakukan aktivitas di dalam kamar agar anak tidak melihat apa yang tidak seharusnya mereka lihat
         

SOLUSI JIKA TERJADI PENYIMPANGAN SEKSUAL

Pencegahan perilaku penyimpangan seksual harus diawali dari lingkungan keluarga.

(Rumah - Sekolah - Lingkungan - Peer Group - Media- Masyarakat - Negara) adalah kesatuan mata rantai yang bertanggung jawab bersama terhadap hadirnya permasalahan penyimpangan perilaku seksual di masyarakat, khususnya pada anak (Soebagio, 2015).
   
  1. MENCARI TAHU PENYEBAB
Mengetahui faktor penyebab penting untuk dapat mengetahui jenis terapi yang tepat dan akurat.

  1. MEMBERIKAN TERAPI SESUAI PENYEBAB
• Faktor Biologis
misalnya ada kelainan secara hormonal, maka bisa ditempuh jalan terapi hormon yang diikuti dengan terapi perilaku. Untuk mengetahui penyimpangan akibat faktor ini, dapat dilakukan melalui pemeriksaan oleh tenaga medis.
• Faktor kesalahan informasi / persepsi & pergaulan maka bisa dilakukan terapi kognitif. Pada kasus- kasus demikian, nilai-nilai moral sosial dan agama adalah hal yang tidak bisa dilepaskan di samping tetap diperlukannya penanganan tenaga psikiater, psikolog atau medis lainnya. Hal yang perlu diketahui bahwa pada penanganan kasus demikian, psikolog bisa saja memberikan intervensi tidak hanya pada anak yang dimaksud, namun juga pada anggota keluarga, atau bahkan lingkungan sekolah anak tersebut. Bentuk intervensi bisa saja berbeda tergantung jenis kasus dan penyebabnya. Hasil yang dicapai pun bisa jadi berbeda antar kasus. Batas paling rendah adalah membantu anak untuk ‘mengabaikan’ kecenderungan Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, yang populer dengan istilah LGBT.

  1. ORANG TUA PERLU DISKUSI DENGAN PSIKOLOG TANPA MELIBATKAN ANAK
Tahap awal tidak perlu membawa anak bersama saat ke psikolog. Setelah tahap awal dan data dirasa cukup, anak bisa dipersiapkan untuk diajak bersama ke psikolog. Pada tahap ini anak harus paham kenapa dirinya diajak ke psikolog. Sentuhan dan uraian garis besar kasih sayang keluarga kepadanya menjadi pengantar untuk menjelaskan mengenai bantuan yang akan diberikan psikolog kepadanya. Kenyamanan anak menjadi hal yang utama dalam treatment, sehingga perlu disampaikan juga pada anak bila ia merasa tidak nyaman untuk bertemu dengan psikolog. Ia memiliki hak untuk meminta re-schedule atau memindahkan lokasi konseling ke tempat yang membuatnya lebih nyaman.
    

   “CHANGE!”
Intervensi untuk mengubah orientasi seksual yang menyimpang tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Namun keyakinan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang harus ‘disembuhkan’ menjadi poin yang penting mengingat ada banyak distorsi pemikiran yang menganggap bahwa homoseksual adalah varian normal dan tidak perlu ‘diobati’.
    

 Referensi

  • Fitrah Based Education Version 3.0 (Bab Fitrah Gender/Fitrah Seksualitas Hal 188-190)
  • Prosiding Seminar Nasional dan Temu Ilmiah Jaringan Peneliti
  • Perilaku Penyimpangan Seksual dan Upaya Pencegahannya di Kabupaten Jombang oleh Achmad Anwar Abidin
  • Buku Pendidikan Seks untuk Anak oleh Nurul Chomaria, S. Psi
  • Seminar Mendampingi Anak menuju Akil Baligh oleh Ayah Irwan
  • Seminar Ketika Penyimpangan Seksual Hadir di Keluarga oleh Rita Soebagio (Peneliti dan Sekjen Aliansi Cinta Keluarga)
  • Bune Sukmasari (Konsultasi Psikologi), 2015.

Bahwa intervensi utk mengubah perilaku penyimpangan seksual tentunya membutuhkan waktu yg tidak sebentar. Namun, keyakinan bahwa hal itu adalah sesuatu yg harus disembuhkan menjadi poin penting dlm langkah pertama "mengobati" penyimpangan ini. Baik keluarga, sekolah, peer group, masyarakat, media, hingga negara memiliki perannya dalam mencegah perilaku penyimpangan seksual. Sebab, bukankan lebih mudah mencegah daripada mengobati?

Semoga kita dan keluarga senantiasa dilindungi oleh-Nya.. Aamiin..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…