Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #10 Tantangan Hari #12


•Takdir Sebuah Kacamata•
⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Bismillaahirrahmaanirrahiim...⁣⁣⁣

Lagi buka-buka galeri foto bareng Althaf (6th), tetiba ingat pernah punya kacamata hitam yang bertahan hanya dalam beberapa jam. Hahaha… “Alhamdulillah…” kataku yang membuat Althaf terkejut. “Kok Bunda gak sedih?” Iya, bukan kacamata kesayangan yang waktu itu digunakan, jadi gak sedih-sedih banget lah.

Kok bisa? Akhirnya Bundyta bercerita kepada Althaf tentang sebuah sikap sabar dan ikhlas, karena yakin akan takdir Allah. Begini ceritanya…

Saat itu kami hendak liburan keluarga, semua barang disiapkan termasuk kacamata. Maklum outdoor dan siang waktu perjalanan, jadi kacamata hitam adalah perlengkapan yang tak boleh ketinggalan. Namun, apa daya, kacamata kesayangan hilang entah dimana.

Awalnya kesel, sedih, tapi dipikir-pikir lagi, ngapain jadi berubah mood? Kan mau liburan. Yowes, akhirnya melipir sebentar ke toko pinggiran, beli kacamata murahan. Lumayan… Setelah digunakan beberapa jam, kacamata penyelamat terjatuh ke sungai saat naik kami naik sampan. Hiks... 

Namun, ada yang membuatku terkejut. Ternyata kacamata hitam kesayanganku telah ditemukan dalam perjalanan pulang. MasyaaAllah coba kalau tadi dipakai, lalu jatuh, hilang, pasti lebih sedih karena tak akan pernah bertemu lagi.

Jadi, pesanku kepada Althaf, kalau ada suatu terjadi terhadap diri kita, sebaiknya tetap berbaik sangka kepada Allah. Sabar dan ikhlas menghadapinya karena InsyaaAllah semuanya adalah rencana terbaik yang Dia tuliskan untuk kita. 


⁣⁣
#hari12
#level10⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#IIPxBundyta⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#gamelevel10⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#kuliahbunsayiip⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#tantangan10hari⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#institutibuprofesional⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#grabyourimagination⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#bundytabercerita⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#sunglasses
#kacamata
#iipdepok⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#iip⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
@institut.ibu.profesional⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
@ibuprofesional.depok⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2

•Game Level #2 Tantangan Hari #2• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan. . “Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?” Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja. “Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?” Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.” “Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.” “Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek. “Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.” “Ah, gak mau ah, ayam aja deh…” Pak suami yang duduk di samp