Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #10 Tantangan Hari #11


•Makanan adalah senjata, obat sebagai pelurunya•
⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Bismillaahirrahmaanirrahiim...⁣⁣⁣
⁣⁣
Jelang malam ketiga Albarra demam, aku pusing bukan kepalang. Tak konsen lagi menjalani tantangan Kelas Bunda Sayang, tapi ternyata mau tak mau membuat dongeng sebagai bujukan.

Demi minum obat penurun demam, aku meminta Albarra sebelumnya untuk makan. Padahal mungkin saja kurang nyaman karena gangguan tenggorokan. Namun, perlahan walau hanya sedikit aku tetap memintanya untuk makan. Walaupun sebenarnya obat jenis paracetamol tak harus diminum setelah makan.

Aku membujuk Albarra dengan dongeng, berburu babi di hutan. Sebenarnya Albarra (2 th) tak betul-betul mengerti sih, malah Althaf (6 th) yang mendengarkan ikut menanggapi. Kemudian aku pun bercerita bahwa saat seseorang berburu, maka ia perlu senjata.

Senjata tanpa peluru tak ada gunanya, begitu juga peluru tanpa senjata, tak akan berarti apa-apa. Bagaimana ingin menangkap babi di hutan, kalau keduanya tidak disiapkan?

Begitu juga dengan penyakit berupa virus atau bakteri dalam tubuh. Bagaimana bisa dibinasakan kalau hanya minum obat saja tanpa ada makanan untuk membantu perlawanan. Begitulah kira-kira analogi dengan dongeng walaupun maksa. Hehe...

Jadi, kalau ingin sembuh dari penyakit, makanlah yang cukup kemudian minum obat yang sesuai. Alhamdulillah, walaupun tak nafsu makan, akhirnya habis juga sepiring nasi tiga kali sehari. Semoga lekas sembuh dan sehat ceria kembali ya, Albarra sayang!
⁣⁣⁣⁣
#hari11
#level10⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#IIPxBundyta⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#gamelevel10⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#kuliahbunsayiip⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#tantangan10hari⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#institutibuprofesional⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#grabyourimagination⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#bundytabercerita⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#minumobat
#iipdepok⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#iip⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
@institut.ibu.profesional⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
@ibuprofesional.depok⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir