Langsung ke konten utama

Belajar Menulis Melalui Indera


•Roti Keju Susu•

Setelah shalat Maghrib kemarin malam, aku mengecek ponsel, melihat beberapa pesan personal dan whatsapp group. Wah! Ternyata ada tetangga jualan roti berbagai rasa. Aku pun membaca satu per satu sambil memilih pesanan roti bersama Althaf. Memang aku menawarinya, yang kebetulan sedang duduk di ruang keluarga. Ia pun dengan cepat memilih roti coklat, sosis, dan pizza.

Mataku lalu tertuju pada tulisan jenis roti yang tertera komposisi keju. Roti isi keju coklat, Roti Topping Keju, Roti Isi Keju, tampak sudah biasa dalam bayanganku. Walaupun akhirnya aku membelinya juga sih! Hehehe… Dasar Anak Keju! Namun, lain halnya dengan tulisan salah satu keju yang asing di telinga, Roti Susu Keju. Sehingga aku memutuskan untuk memesannya juga.

Pagi tadi roti diantar, mataku terbelalak dengan bentuknya yang begitu besar, jauh dari bayangan. Ketika plastik pembungkus dibuka, aroma langsung menusuk ke hidung, memaksa air liur untuk mengalir lebih deras. Perutku berbunyi seakan tergoda oleh penampilan menggemaskan Roti Susu Keju. Tak perlu waktu lama, roti “menul” itu langsung mendarat di lidah, bekerja sama dengan gigi-gigi yang saling memeluk mesra.

Nyam… Nyam… Tanpa permisi, mulutku mulai beraksi, melumat lembutnya roti dengan topping susu keju yang sejak tadi menggoda hati. Ya! Sungguh tampilannya pun terlihat begitu menggemaskan karena ada sentuhan blueberry di tengahnya. Selain rotinya sendiri yang lembut, toppingnya pun langsung lumer di lidah. Rasanya pas, ada manisnya susu, gurihnya keju, dilengkapi asam khas buah berry. Ah, aku jadi ingin tambah...

_Bundyta_140220_

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir