Langsung ke konten utama

Belajar Membuat Outline

•Belajar Membuat Outline•
29 Februari 2020

Oleh: Cindyta Septiana

Hari ini aku coba membuat sebuah outline yang bisa digunakan sebagai bahan tulisan atau Vlog. Dimulai dengan menentukan tema besar, kemudian turun ke tema yang lebih spesifik. Pada akhirnya aku mendapatkan calon judul. Mengapa masih “calon”? Karena bisa saja setelah outline, bahkan tulisan selesai dibuat, judul berubah sesuai isi. Berikut adalah outline yang telah aku susun:

Tema Besar: Hari Raya Lebaran

  1. Tema: Wisata Kuliner Sepanjang Mudik Lebaran ke Jawa Tengah
Calon Judul: “Ayo Kita Intip Kelezatan Kuliner di Sepanjang Pantura Selama Mudik!”
Outline:
  • Pembukaan (mudik tanpa tol bisa menikmati kuliner)
  • Review  Sate Maranggi di Cikampek
  • Review Nasi Jamblang di Cirebon
  • Review Camilan Tahu Aci di Tegal
  • Review Oleh-Oleh Telur Asin Yes di Brebes
  • Review Nasi Megono di Pekalongan
  • Review Soto Bangkong di Semarang dan Oleh-Oleh Bandeng Juwoni
  • Review Soto Kerbau Kudus dan Oleh-Oleh Jenang Kudus
  • Review Nasi Gandul Pati
  • Penutupan (makanan dan oleh-oleh favorit)

  1. Tema: Berkenalan dengan Masjid Bersejarah di Sepanjang Jalur Pantura
Calon Judul: “Gak Nyangka! Banyak Masjid Bersejarah yang Sangat Nyaman dan Indah di Sepanjang Jalur Pantura.”
Outline:
  • Pembukaan (tempat shalat, istirahat, dan singgah saat mudik)
  • Review Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon
  • Review Masjid Agung Kota Tegal
  • Review Masjid Agung Brebes
  • Review Masjid Agung Jawa Tengah
  • Review Masjid Agung Demak
  • Review Masjid Menara Kudus
  • Penutupan (masjid terfavorit dari segi arsitektur, dll.)



_Bundyta_290202_
#NulisDariNol #TrainingIIDN #NulisBarengMbakWid

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2

•Game Level #2 Tantangan Hari #2• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan. . “Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?” Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja. “Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?” Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.” “Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.” “Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek. “Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.” “Ah, gak mau ah, ayam aja deh…” Pak suami yang duduk di samp