Langsung ke konten utama

Splash and Play Pool


14/30 •Splash and Play Pool•
.
Bismillaahirrahmaanirrahiim… Sebelum memulai cerita, aku mau tanya nih! Pernah gak ada yang trauma karena sebuah kejadian, lalu dikaitkan dengan sebuah benda? Kemudian jadi fobia, takut, benci bahkan menghindari benda tersebut.
.
Aku pernah, fobia terhadap kolam renang mini buat anak-anak. Saat bayi, Althaf sering sekali main air di kolam seperti di gambar ini. Ia bermain di teras rumah kami, bahkan dibawa serta kalau pergi ke rumah kakek nenek. Modelnya lucu, ada bentuk pohon, ular raksasa, dan kupu-kupu.
.
Hingga ketika usia sekitar 10 bulan. Ia bermain air bersama temannya di kolam ini. Namun, keesokan harinya langsung demam tinggi dan muncul bintil-bintil berair di sekitar tangan, kaki, dan mulut. Alih-alih mendapat kesenangan melihat anak yang ceria, aku malah tersayat hatinya.
.
Althaf terkena flu singapura atau dikenal juga sebagai Penyakit Kaki, Tangan, dan Mulut (Hand Foot and Mouth Disease). Kebetulan temannya sedang masa penyembuhan dan aku tak mengetahuinya. Mungkin saja virus menular melalui air kolam yang tercemar dari air liur, cairan luka, bersin, atau sentuhan fisik lainnya saat mereka bermain bersama.
.
Sementara saat itu Althaf masih berjalan dengan cara merangkak, seringkali bintil-bintil tersebut pecah dan meninggalkan luka terutama di lutut. Wah, sedih rasanya, apalagi nafsu makan juga menurun karena mulut jadi tak nyaman. Asi pun sedikit sekali yang masuk. Tak ada yang bisa dilakukan selain menambahkan banyak cairan dan menunggu hilang dengan sendirinya.
.
Sejak saat itu, aku membenci kolam renang mini yang kami miliki. Masih selalu terbayang penderitaan Althaf selama 2 minggu setelah itu. Sehingga kolam tak pernah lagi aku gunakan, kusimpan bertahun-tahun dalam gudang. Penyesalan tak henti terhadap kejadian yang menimpa anakku tersayang.
.
Akan tetapi, trauma pada diriku dan fobia terhadap kolam mini, kubiarkan tanpa harus merusak masa depan Althaf. Ia tetap bermain air dan berenang hingga kini, begitu juga Albarra. Mereka seringkali berenang di kolam besar. Hingga pekan lalu saat pergi ke Mall, Althaf dan Albarra menunjuk rak toko penjual kolam renang mini yang mirip sekali.
.
Mengingatkanku kembali pada kolam mini yang kami miliki, serta trauma yang pernah kualami. Namun, kali ini aku bertanya pada diri sendiri, mau sampai kapan memendam ini? Akhirnya, kami keluarkan benda itu dari gudang, anak-anak pun senang dan aku pun kini mulai tenang.
.
Sebenarnya dimanapun dan kapanpun bakteri serta virus akan terus mengintai anak-anak kita. Ketahanan tubuh merekalah yang harus disiapkan, bukan lingkungan sekitar yang harus selalu disalahkan. Tentu dengan berbagai pertimbangan ya! Semoga Allah SWT selalu melindungi kita semua. Aamiin Allahumma Aamiin.
.
#SplashAndPlayPool
#MiniSwimmingPool
#SwimmingPool
#Swimming
#MiniPool
#Swim
#Pool
#30hbc20
#30hbc2013
#flusingapura
#30haribercerita
#AlthafaroAlbarra
#bundytabercerita
#handfootmouthdisease
.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan