Langsung ke konten utama

Pos Ketan Legenda Batu Malang


07/30 •Pos Ketan Legenda 1967 - Batu Malang•
.
“Nanti malam aku mau ajak kamu ke tempat ngemil paling enak di Batu. Pasti kamu suka!”
.
Dibilang begitu sama Pak Suami rasanya deg-deg-an, macam kayak orang mau diajak kencan. Ternyata lokasinya di dekat alun-alun Kota Batu Malang. Kebetulan waktu itu parkir agak jauh, jadi lumayan kalo jalan kaki, apalagi bawa bayi digendong. Dan sampai di lokasi, penuh aja dong!
.
Belum dapat tempat duduk, dan masih tertegun dengan tempat PKL 67 yang padatnya kayak lagi antri sembako. Eh, malah Pak Suami langsung ngajak pesan. Lah, duduknya nanti dimana? Tapi begitu memang ternyata, banyak juga yang langsung antri dan pesan. Walaupun setelah itu harus memasang wajah “melas” kepada pengunjung lain yang tengah makan.
.
Tak lama, ketan susu keju coklat dan ketan susu durian vla siap disantap. Alhamdulillah tempat duduk pun didapat, pada waktu yang tepat. Hasil dari mantengin pasangan muda yang kayaknya gak tega. Akhirnya setelah makan, dia pergi juga. Gak ada tuh ceritanya ngopi-ngopi cantik sambil ngobrol. Pokoknya datang, makan, pulang. Hahaha…
.
Masya Allah… Walau begitu, perjuanganku telah terbayar lunas. Ketan sungguh membuatku ketagihan. Mau tambah lagi sih, nyoba rasa yang lain, rasa yang pernah ada. Ups! Tapi udah langsung kenyang euy. Pak Suami mengakhiri dengan kopi. Sementara aku dengan wedang legenda, rasanya jadi berbeda. Menetralkan rasa ketan dan manisnya toping yang tersisa.
.
Pokoknya siapa pun yang dateng ke Malang, wajib mampir ke Pos Ketan legenda 1967. Cocok banget buat camilan, apalagi dengan suasana dingin-dingin saat malam. Selamat mencoba…
.
#posketanlegenda1967
#posketanlegenda
#ketansusukeju
#ketandurian
#ketansusu
#malang
#cigotrip
#cigofamily
#30hbc2007
#30haribercerita
#bundytabercerita




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2

•Game Level #2 Tantangan Hari #2• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan. . “Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?” Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja. “Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?” Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.” “Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.” “Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek. “Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.” “Ah, gak mau ah, ayam aja deh…” Pak suami yang duduk di samp