Langsung ke konten utama

Lapangan Ahmad Yani


16/30 •Lapangan A. Yani•
.
Bismillaahirrahmaanirrahiim… Hari ini di group whatsapp ada yang mengirim foto jaman dulu. Eh gak jaman dulu banget sih! Ini foto 2012, berarti sekitar 7 tahun lalu. Cuma yang jadul itu emang cerita tempat dimana orang-orang dalam foto ini dipertemukan, lebih dari 17 tahun lalu.
.
Di Sekolah Daan Mogot 50 dong? Bukan…! Kami “dipertemukan dengan sengaja” di sebuah lapangan, tempat dimana kami mengambil foto ini. Bukan pertemuan pertama sih, tapi setiap momen berkesan ya pasti di tempat ini. Kupernah pingsan pula di sini. Duh!
.
Lapangan Ahmad Yani, tempat yang akhirnya mempertemukan kami di kondisi yang enak-enak gak enak. Gak tau banyak enaknya apa banyak enggaknya. Haha... Kalo sekarang sih enak aja ceritanya, kalau dulu saat menjalaninya? Nyerah...
.
Satu hal yang pasti, ini adalah tempat dimana kami memiliki sebuah cerita, yang mungkin berbeda dari siswa SMA pada umumnya. Kalau cerita tentang apa dan siapa yang mempertemukan kami 17 tahun lalu, mungkin akan panjang hingga berbuku-buku.
.
Ada cerita tentang mimpi, tujuan hidup, politik praktis, perjuangan, pengorbanan, keluarga, persahabatan, percintaan (eh, apaan nih?) dan masih banyak lagi. Mangkanya 10 tahun setelah 27 Oktober 2002, kubela-belain napak tilas, antarkota dan antarprovinsi. Padahal lagi hamil trisemester pertama tuh, mual-mual.
.
Alhamdulillah, gerimis saat itu hanya bercerita tentang masa lalu kami yang manis. Iyalah, namanya juga mengenang, yang muncul pastinya lelawakan. Coba saat di masa-masa itu, teriknya matahari, panasnya conblock, keringnya tenggorokan, terbakarnya kulit, pekaknya telinga, pegalnya kaki dan tangan, serta perihnya pipi. Pahit… Pahit rasanya...
.
Kalau aku sih, bersyukur pernah diberi rejeki pengalaman itu. Banyak kondisi yang telah dilalui, banyak hal yang dapat dipelajari. Ambil baiknya, buang buruknya. Toh saat itu kami ditempa tak hanya fisiknya saja. Ada keteguhan mental, pola pikir, cara pandang, dan sebagainya, yang mungkin dirasakan berbeda satu dengan lainnya.
.
Ah, jadi rindu. Cerita lagi gak ya, tentang masa itu?
.
#30hbc20
#30hbc2016
#30haribercerita
#bundytabercerita
#lombabarisberbaris
#lapanganahmadyani
#lombapaskibra
#lbbsmanitra
#paskibraka
#ahmadyani
#lapangan
#smanitra
#lbb2002
#lbb
.
@30haribercerita
@atirecrebirah03






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan