Langsung ke konten utama

Ketan Susu Kemayoran


9/30 •TanSuKe - Ketan Susu Kemayoran•
.
Bismillahirrahmaanirrahiim… Setelah kemarin bahas ketan dari Batu Malang, mari melipir sejenak ke kota kelahiran aye, Jakarte. Tsah… Baru tahu beberapa bulan yang lalu kalau ada ketan yang melegenda juga. Namanya Ketan Susu Kemayoran. Monmaap, numpang lahir sampe ABG jarang main jauh. Padahal konon sudah berdiri sejak 1958. Hehe…
.
Cerita beberapa bulan lalu,
“Motoran dari mana?”
“Kemayoran.”
“Duh, jauh amat malem-malem!”
(Mengalihkan takut dibawelin) “Tadi nemu tempat camilan, kapan-kapan kamu kuajak ya?”
.
Sa ae Pak Suami modusnya, daripada dikunci depan rumah, mendingan dia PHP-in ajah. Huh! Alhamdulillah beberapa pekan kemudian, kami kebetulan bertemu kerabat di sekitar Ancol. Dan inilah waktu yang tepat untuk menagih janji manisnya.
.
Lokasi tujuan ditelusuri, lupa katanya, bolak balik gak ketemu, bikin aku makin emosi. (Dalam hati) Ini beneran ada gak sih? Jangan-jangan… Eh, alhamdulillah gak jadi suudzon, karena sudah ketemu! Saat itu pagi menjelang siang, jadi gak begitu ramai. Dari jauh, tempatnya lebih mirip tukang gorengan sih. Seriusss… Tumpukan tempe, pisang, ubi, singkong goreng dan teman-temannya yang dari jauh sudah ramah menyapa.
.
Dipesanlah Ketan Susu yang kurindu. Ya beneran ketan susu, cuma ketan dan susu kental manis, tanpa topping lain. Enak? Yaa enak aja sih, cuma emang sensasinya beda. Ini tekstur ketan lebih keras dan kering dibandingkan Ketan Malang yang lembek. Terus SKM sungguh banyak dituang dan “giung” rasanya. Bagi yang suka manis pasti suka.
.
Ditemani gorengan, enak juga sih. Aku pilih singkong dan tempe goreng. Tempe gorengnya beda dengan gorengan abang-abang, Althaf sampe nambah 5. Ini anak doyan apa laper? Lalu jangan lupa pesen minum biar gak seret yes!  Atuhlah pasti minumnya cari yang gak manis lagi. Seperti biasa, Pak Suami secangkir kopi pahit dan aku jeruk hangat. Mau coba? Sok mangga, cari alamatnya pakai GPS aje, tulis “TanSuKe”. Nah, pulangnye mampir PRJ ye! *wink*
.
#ketansusukemayoran
#kulinerjakarta
#ketansusu
#tansuke
#jakarta
#cigotrip
#30hbc20
#cigofamily
#30hbc2009
#30haribercerita
#bundytabercerita




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…