Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #10 Tantangan Hari #8 30/30


30/30 •Waktu Istirahat•
⁣⁣⁣⁣⁣
Bismillaahirrahmaanirrahiim...⁣⁣
Adakah kiranya yang berkenan memberi tips agar anak makan cepat? Hahaha… Ini masih menjadi tantangan bagiku saat menemani Althaf (6th) makan. Padahal sudah dijauhkan dari berbagai bentuk distraksi. Di meja hanya berhadapan dengan piring makan.

Pernah juga dibuat sehari tanpa camilan, atau diberi aktivitas fisik yang padat, serta makanan yang variatif. Tetap saja masih lama menyelesaikan makannya. Kini aku nampak membutuhkan “waktu untuk istirahat” menggegas dengan berbagai cara.

Berbekal dari menonton Top Chef Junior, aku pun menceritakan tentang seorang kontestan yang tereliminasi karena kurang cermat dalam manajemen waktu.

Fernando adalah salah satu anak berbakat. Ia menyiapkan sebuah hidangan yang terlihat lezat, dengan menu daging dan asparagus sebagai pendamping. Namun, ia asyik memasak tanpa memperhatikan waktu yang terus berjalan. Tak sadar, waktu tinggal 5 menit lagi. Saatnya ia menata hidangan dalam 3 buah piring.

Namun, sayang sekali, ketika asparagus serta saus sudah diletakkan dengan cantik, waktu untuk memindahkan daging sudah habis. Lantas, sia-sia sudah perjuangannya. Menu utama malah tak sempat tersaji di atas meja. Fernando yang malang pun harus pulang.

Dengan santai saat makan, aku mencoba untuk mengaitkan cerita inspiratif ini dengan apa yang dialami Althaf. Pernah suatu hari ia gagal menjadi imam Shalat Dzuhur di sekolah karena ia belum menyelesaikan makan siangnya. Alhasil, teman lain yang menggantikan untuk menjadi imam.

Sungguh aku ingin istirahat menghitung waktu Althaf saat makan. Aku berharap dengan dongeng ini, Althaf dapat menyadari bahwa waktu begitu penting. Akan banyak hal yang hilang ketika ia tak dapat mengatur waktu dengan baik. Jadi, sebisa mungkin kita harus bisa memanfaatkannya untuk hal-hal yang baik.

Walaupun demikian, masih menjadi PR bagi Althaf dalam mengatur waktu, terutama saat makan. Namun, sekali lagi, aku ingin istirahat menggegas. Semoga dengan hanya berulang kuceritakan dongeng ini, Althaf bisa selalu ingat dan menjadikannya pelajaran yang berharga. Mohon doanya yaa…
⁣⁣⁣
#hari8
#level10⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#dinnertime
#IIPxBundyta⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#gamelevel10⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#kuliahbunsayiip⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#tantangan10hari⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#institutibuprofesional⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#grabyourimagination⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#bundytabercerita⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#30hbc20istirahat
#30haribercerita⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#30hbc2030
#30hbc20⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#iipdepok⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#iip⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
@institut.ibu.profesional⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
@ibuprofesional.depok⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
@30haribercerita⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
@atirecrebirah03⁣⁣⁣

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…