Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #10 Tantangan Hari #3 25/30


25/30 •Balapan Romi dan Rubi•⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
Bismillaahirrahmaanirrahiim...⁣
Kebiasaan Jum’at malam, Althaf (6th) seringkali enggan tidur cepat. Ia berpikir bahwa besok hari libur sekolah, jadi bisa tidur larut malam dan bangun keesokan harinya lebih siang.⁣
Seperti biasanya, perilaku Sang Kakak akan dicontoh oleh adik, sehingga Albarra (2th) pun jadi enggan tidur. Ia pun jadi malas untuk menggosok gigi. Sulitnya mengajak Albarra menggosok gigi membuatku secara spontan membuat dongeng sebagai upaya lain untuk membujuknya.⁣
Berikut kisah tentang Balapan Romi dan Rubi.⁣
Di Kota Cinnamon, Romi dan Rubi sedang duel dalam putaran Final Lomba Balap Mobil. Romi adalah mobil balap jenis Ferrari berwarna merah, sementara Rubi adalah mobil warna biru keluaran Porsche. Sebelum balapan, Romi sudah mempersiapkan diri. Ia rajin bersih-bersih, terutama ban mobil karena merupakan komponen yang sangat vital saat balapan.⁣
Di sisi lain, Rubi tak menghiraukan saran dari tim yang membantunya, untuk membersihkan ban. Padahal saat itu kondisi ban miliknya sangat tidak layak pakai, kotor terkena tanah dan sedikit berminyak. Alhasil, saat balapan ia tergelincir ketika melintasi tikungan yang tajam. Tentu bila ban sudah dibersihkan, kecepatannya bisa lebih stabil dan permukaan ban tidak akan licin hingga harus membuatnya keluar dari arena balap.⁣
Mendengar cerita itu, Albarra berhasil dibujuk untuk menyikat gigi. Ia tak mau kalah balapan makan dengan Mas Althaf, kalau giginya kotor dan rusak tidak bisa mengunyah dengan baik. Walaupun memang anak usia 2 tahun masih harus konkret ya saat mempelajari sesuatu. Dibawalah salah satu mobil ke kamar kecil, bersama dengan sikat gigi bekas untuk menyikat bannya. MasyaaAllah… Tabarakallah...⁣
⁣⁣
#hari3⁣
#level10⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#IIPxBundyta⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#gamelevel10⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#kuliahbunsayiip⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#tantangan10hari⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#institutibuprofesional⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#grabyourimagination⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#bundytabercerita⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#30haribercerita⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#30hbc2025⁣
#30hbc20⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#iipdepok⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#iip⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣
@institut.ibu.profesional⁣⁣⁣⁣⁣⁣
@ibuprofesional.depok⁣⁣⁣⁣⁣⁣
@30haribercerita⁣⁣⁣⁣⁣⁣
@atirecrebirah03⁣⁣⁣


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir