Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #10 Tantangan Hari #2 24/30


24/30 •Pᴇʟᴀᴊᴀʀᴀɴ Bᴀɢɪ Sᴇʀɪɢᴀʟᴀ•⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
𝘉𝘪𝘴𝘮𝘪𝘭𝘭𝘢𝘢𝘩𝘪𝘳𝘳𝘢𝘩𝘮𝘢𝘢𝘯𝘪𝘳𝘳𝘢𝘩𝘪𝘪𝘮…⁣⁣⁣⁣
Setelah bersih-bersih dan sikat gigi, kemudian masuk kamar, Albarra menunjuk stiker Panda dan minta untuk mendengar dongeng yang kemarin. Wah, aku pun dengan senang hati memenuhi permintaannya, tentu dengan tambahan cerita selanjutnya.

Cerita selanjutnya adalah 𝐏𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐁𝐚𝐠𝐢 𝐒𝐞𝐫𝐢𝐠𝐚𝐥𝐚.

(Silahkan swipe feed instagram ini ➡️➡️➡️ untuk dongeng selengkapnya)
𝐾𝑒𝑒𝑠𝑜𝑘𝑘𝑎𝑛 ℎ𝑎𝑟𝑖𝑛𝑦𝑎 𝑃𝑎𝑛𝑑𝑎 𝑏𝑎𝑛𝑔𝑢𝑛 𝑡𝑖𝑑𝑢𝑟 𝑝𝑎𝑔𝑖-𝑝𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑙𝑖. 𝐼𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑔𝑒𝑔𝑎𝑠 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑗𝑢 𝑝𝑒𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑝𝑎𝑛, 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑖𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑚𝑎𝑖𝑛 𝑃𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔 𝐴𝑗𝑎𝑖𝑏 𝑡𝑎𝑑𝑖 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚. 𝑁𝑎𝑚𝑢𝑛, 𝑖𝑎 𝑘𝑒𝑏𝑖𝑛𝑔𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑝𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑖𝑡𝑢 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔. 𝑃𝑎𝑑𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑐𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑚𝑎𝑟𝑖, 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑚𝑎𝑖𝑛𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑖𝑎 𝑠𝑢𝑘𝑎𝑖 𝑖𝑡𝑢 𝑡𝑎𝑘 𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑢𝑘𝑎𝑛. 𝑃𝑎𝑛𝑑𝑎 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟𝑛𝑦𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔𝑖𝑠 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑑𝑢 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑖𝑏𝑢.⁣
𝑆𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 𝑖𝑡𝑢, 𝑆𝑒𝑟𝑖𝑔𝑎𝑙𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑎𝑤𝑎 𝑝𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘 𝑃𝑎𝑛𝑑𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑡𝑒𝑚𝑢 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑒𝑘𝑜𝑟 𝑘𝑒𝑟𝑎. 𝐾𝑒𝑟𝑎 𝑖𝑡𝑢 ℎ𝑒𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑚𝑖𝑛𝑗𝑎𝑚, 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑆𝑒𝑟𝑖𝑔𝑎𝑙𝑎 𝑡𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑖𝑧𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛. 𝐼𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎ℎ 𝑠𝑜𝑚𝑏𝑜𝑛𝑔 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑎ℎ𝑤𝑎 𝑝𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑘𝑢𝑎𝑡, 𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑏𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑜ℎ𝑜𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑚𝑒𝑐𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑡𝑢, 𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑐𝑎ℎ𝑎𝑦𝑎 𝑑𝑖 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚 ℎ𝑎𝑟𝑖.⁣
𝐾𝑒𝑟𝑎 𝑡𝑎𝑘 𝑠𝑒𝑡𝑢𝑗𝑢, 𝑖𝑎 𝑝𝑒𝑟ℎ𝑎𝑡𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑗𝑎𝑖𝑏 𝑖𝑡𝑢 ℎ𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑚𝑎𝑖𝑛𝑎𝑛. 𝐾𝑒𝑟𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑎ℎ𝑤𝑎 𝑝𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑖𝑡𝑢 𝑡𝑎𝑘 𝑘𝑢𝑎𝑡, 𝑠𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑛 𝑐𝑎ℎ𝑎𝑦𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑖𝑡𝑢 𝑠𝑒𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑙𝑎𝑠𝑡𝑖𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑛𝑡𝑢𝑙𝑘𝑎𝑛 𝑐𝑎ℎ𝑎𝑦𝑎. 𝑇𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑟𝑎, 𝑆𝑒𝑟𝑖𝑔𝑎𝑙𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑗𝑢𝑘𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑘𝑠𝑖𝑛𝑦𝑎 𝑑𝑖 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚 ℎ𝑎𝑟𝑖. 𝐵𝑒𝑛𝑎𝑟 𝑠𝑎𝑗𝑎, 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝑖𝑎 𝑐𝑜𝑏𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑏𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑜ℎ𝑜𝑛, 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎 𝑝𝑜ℎ𝑜𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑒𝑙𝑎ℎ, 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑎𝑖𝑛𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 ℎ𝑎𝑛𝑐𝑢𝑟.⁣
Setelah dongeng selesai, ternyata aku baru sadar bahwa Albarra sudah terlelap. Hahaha… alhamdulillah. Akhirnya, aku bersama Althaf mencoba menggali insight. Bahwa kita tak boleh sombong dan coba berbesar hati menerima masukkan. Nah, kita juga tak boleh langsung memiliki barang yang baru saja ditemukan, harus dicari dulu pemiliknya, lihat di sekitar apakah mungkin ada orang yang bisa diminta informasinya.⁣
#hari2⁣
#level10⁣⁣⁣⁣⁣
#IIPxBundyta⁣⁣⁣⁣⁣
#gamelevel10⁣⁣⁣⁣⁣
#kuliahbunsayiip⁣⁣⁣⁣⁣
#tantangan10hari⁣⁣⁣⁣⁣
#institutibuprofesional⁣⁣⁣⁣⁣
#grabyourimagination⁣⁣⁣⁣⁣
#bundytabercerita⁣⁣⁣⁣⁣
#30haribercerita⁣⁣⁣⁣⁣
#30hbc2024⁣
#30hbc20⁣⁣⁣⁣⁣
#iipdepok⁣⁣⁣⁣⁣
#iip⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣
@institut.ibu.profesional⁣⁣⁣⁣⁣
@ibuprofesional.depok⁣⁣⁣⁣⁣
@30haribercerita⁣⁣⁣⁣⁣
@atirecrebirah03⁣⁣





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story