Langsung ke konten utama

Bakso President Malang


11/30 •Bakso President Malang•
.
Bismillaahirrahmaanirrahiim… Malam-malam bukannya tidur malah liat handphone. Demikianlah diriku, akhir-akhir ini kebablasan liburan, jadi suka telat tidur hingga malam. Padahal media sosial sudah dikasih time limit, eh malah suka lihat-lihat galeri foto. Foto makanan pula yang dipantengin, gimana gak pengen?
.
Iya, beneran cuma pengen! Laper sih enggak, kan udah makan malam. Cuma entah mengapa jadi suka kebayang-bayang hingga terbawa mimpi. Hahaha… Itulah yang terjadi kemarin malam, setelah melihat foto semangkuk Bakso President, saat kami berkunjung ke Malang.
.
Alhasil, kujadi mimpi makan bakso pinggir kali. Lha, kok pinggir kali? Bakso President kan letaknya di pinggir rel kereta api? Ya namanya juga mimpi, emang bisa pilih mau mimpiin apa dan lokasinya dimana? Iya juga. Hahaha… 



Jadi, makan Bakso President itu memang serunya kalau saat makan, kemudian ada kereta lewat. Muncul perasaan “ngeri” saat mendengar suara kereta hendak melintasi. Kalau duduknya di bagian luar terasa hembusan angin dari kencangnya laju kereta api. Getarannya pun terasa, menghasilkan sensasi makan yang berbeda. Terakhir, tentu suara “jugijagijug” yang lumayan kencang di telinga. Ah, pokoknya seru!




Nah, kalau baksonya sendiri udah pasti memuaskan dengan ukuran jumbo si bakso, pangsit dan kawan-kawannya. Rasanya juga juara, beda lah kalo sama abang-abang yang lewat masuk komplek setiap sore. Hehehe… Monmaap kujarang jajan bakso apalagi bakso malang.

Namun satu hal yang pasti, buat kamu para penggemar bakso ataupun yang bukan, kalau mampir ke Malang, wajib jajan Bakso President ya! Dijamin jadi momen makan bakso paling berkesan. Okeh, sekian cerita mimpi hari ini semoga gak bikin kamu ngiler sampai terbawa mimpi ya. Btw, kalau nanti aku mimpi lagi, mau diceritain lagi gak? Hehehe...




#baksopresidentmalang
#baksopresident
#kulinermalang
#baksomalang
#malang
#cigotrip
#30hbc20
#cigofamily
#30hbc2011
#30haribercerita
#bundytabercerita


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir