Langsung ke konten utama

Pandu 45 - Ikhtiar Kita


•Aliran Rasa - Pandu 45 Bogor•
.
Bukan sebuah kebetulan, saya dan Pak Suami @go_igo bisa hadir di workshop Pandu 45 Bogor. Ada sebuah PESAN yang dititipkan, atau mungkin juga sebuah TEGURAN. Dari Dia Sang Maha Pemilik segalanya, termasuk anak-anak yang dititipkan oleh-Nya.
.
Lihat anak tetangga jago gambar, buru-buru mencarikan anak guru les.
Lihat anak teman di medsos juara renang, langsung bergegas mengikutsertakan anak kursus renang.
Lihat anak sepupu pentas nyanyi sambil pegang alat musik, kelimpungan cari info memasukkan anak ke sekolah musik.
.
Capek Bun, capek...! Boleh memperkaya wawasan anak tentang beragam aktivitas, keahlian, bahkan profesi. Namun, bukan “menggegasnya” untuk segera menguasai ini dan itu, seolah-olah menitipkan mimpi orang tua.
.
Mulai sekarang, mari perbanyak mengobrol dengan anak, mengoptimalkan kesempatan saat bermain dengan anak, dan menambah berbagai jenis kegiatan yang bisa dilakukan bersama anak.
.
Di sinilah kita bisa MENEMUKENALI bakat-bakat anak. Tanpa harus MEMENJARAKANNYA terhadap segelintir bakat yang buru-buru kita sematkan. Tanpa juga perlu MENGGEGAS anak untuk SEGERA menemukan bakat. Atau sebaliknya memberi LABEL NEGATIF kepada anak akan hal yang belum dapat ia kuasai.
.
Namun, ketika anak telah menemukannya. Maka kita perlu MEMBERSAMAI anak dalam melejitkan potensi bakat yang ia miliki. Bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, tapi juga banyak orang. Untuk dunianya dan akhiratnya kelak. InsyaaAllah.
.
Terima kasih Ibu @septi.peni dan Bapak @dodikmariyanto yang sangat inspiratif. Gambaran sebuah tim yang hebat dalam keluarga. Sosok suami & istri yang selalu berupaya melahirkan anak-anak hebat. Memang benar kan? “It takes two to tango”
.
Terima kasih pula @ibuprofesionalbogor yang telah memfasilitasi event ini. Semoga keberadaan komunitas ini bisa memperkaya wawasan, menambah pengalaman, serta memberdayakan para ibu dan keluarga. Aamiin Allahumma Aamiin.
.
#pandu45
#wspandu45
#pandu45bogor
#ibuprofesionalbogor
#institutibuprofesional
#pandu45ipbogor
#ibuprofesional
#eventipbogor

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan