Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #8 Tantangan Hari #12


•Fee Perdana•
.
Bismillaahirrahmaanirrahiim… Tanya dong, gaji pertama kamu kapan? Hihi.. Rata-rata pas kerja ya? Atau kerja sambil kuliah/ sekolah? Atau hadiah-hadiah lomba? Nah, berhubung kita belum ke tahap menghasilkan uang dari proses jual-beli barang. Bundyta akan membersamai Althaf untuk menghasilkan uang dari jasa yang diberikan.
.
Salah satunya terinspirasi saat kami makan di luar, dimana ada pengamen datang. Seperti biasa Althaf (6th) yang memberikan apresiasi kepada para pengamen. Di sinilah ia menyadari bahwa para pengamen bisa menghasilkan uang, dengan cara menghibur melalui nyanyian.
.
“Althaf mau nyanyi terus dapat uang?”
“Hehe.. Mau!”
“Mau yang sedikit atau yang banyak?”
“Yang banyak lah!”
“Kalau gitu, sekarang Althaf latihan dulu. Kalau sudah siap, coba hibur Bunda, Ayah, dan Adek. Nanti kalau bagus, dikasih uang.”
.
Percobaan pertama, Althaf hanya mendapat fee perdana sebesar 2000 rupiah, sesuai dengan nilai yang ditampilkan aplikasi. Nah, di sini Althaf harus ubah tujuannya. Bukan uang, tapi harus nyanyi dengan lebih baik lagi dan lebih menghibur. Kalau sudah semakin bagus nilainya, uang yang didapat insyaaAllah akan semakin banyak.
.
Udah paham? Belum. Akhirnya diibaratkan dengan hobinya, bermain bola. Kalau main bola hanya sekedar main, tidak semangat mempelajari teknik yang benar. Maka selamanya akan jadi pemain biasa. Kalau mau jadi pemain bola profesional, ya harus selalu semangat meningkatkan skill.
.
Persis seperti nilai yang ditanamkan oleh Ibu Septi Peni, founder Institut Ibu Profesional. *Rejeki itu pasti, kemuliaan yang harus dicari* jadi bersungguh-sungguh terhadap apa yang kamu kerjakan, insyaaAllah uang akan datang dengan sendirinya. Dan selalu percaya ada Dia Sang Maha Pemberi Rejeki.

.
#hari12
#gamelevel8
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#CerdasFinansial
#IIPxBundyta
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional
@ibuprofesional.depok

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir