Langsung ke konten utama

Malam Kedua di Brawijaya


Ini adalah malam kedua di Hotel Brawijaya. Ya, lagi-lagi kami sebut ini Hotel. Aku tak ingin melihat ini sebagai musibah, tetapi anugerah. Di tempat ini kami bisa memiliki banyak waktu bersama-sama. Lebih lama dari hari-hari biasanya. Kami juga bisa tidur bersama di dalam ruangan yang sama. Tentu tak seperti biasanya, dimana formasi selalu kami bagi menjadi dua. Ada yang di kamar depan, ada pula di kamar tengah.

Namun, ada hal menarik di sini. Pada awalnya menginap di malam kedua, tak menjadi rencana kami. Sejak pagi hari, aku dan Albarra sudah datang ke Brawijaya. Beberapa kali kami keluar dari ruang perawatan. Menghadiri seminar di lobby, main di Kids Corner dan Shalat di Mushola. Sementara itu, Althaf nyusul sepulang sekolah. Sengaja aku habiskan pagi, siang, hingga malam di Brawijaya agar bisa pulang dan tidur di rumah.

Ketika menjelang sore, aku bilang ke Althaf, “Malam ini Kita bobo di rumah aja ya, jam 8 atau jam 9 kita pulang.”
“Kenapa emangnya? Di sini aja Bun, bobonya!” Althaf menolak dengan tanya.
Aku memberikan alasan logis, “Ya biar enak, nyaman di kasur.”
“Gapapa di sini aja kan Aku bisa bagun pagi jam setengah 5. Kayak kemarin, pulang pagi-pagi.” Althaf mulai sedikit memberi alasan untuk menginap kembali.
Akhirnya aku berikan lagi pemahaman agar Althaf mau pulang, “Kasihan Kamu sama Adek bobonya sempit di sini.”
“Ya tapi kasihan Bun, ayah bobo sendiri kalau kita pulang!”

Duh, aku langsung terharu mendengar alasan Althaf. Tak ada lagi upaya aku untuk membujuknya pulang. Alasan yang jauh dari lubuk hati, antara perasaan sayang dan rindu yang tertahan. Akhirnya sekitar pukul 8 malam, kami mengambil bantal dan mobil yang biasa ada di mobil. Alhamdulillah, malam ini kami tidur bersama lagi di Brawijaya. Rumah Sakit rasa Hotel. Hahaha...

InsyaaAllah lain kali kita nginep di hotel beneran ya, sayang...  Aamiin Allahumaa Aamiin...


14.11.19
_Bundyta_

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan