Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #8 Tantangan Hari #2


•Pertanggungjawaban Sampah•
https://www.instagram.com/tv/DaurUlangSampah
.
Bismillaahirrahmaanirrahiim… Kemarin Althaf (6th) diberikan tugas membuat benda dengan bahan dasar kardus bekas, dalam rangka “Pekan Peduli Sampah” di sekolah. Akhirnya terciptalah Stadion Al-Fath Soccer yang dapat digunakan untuk bermain Sepak Bola Ala Althaf. Semua itu hasil imajinasi Althaf lho, kalau proses pembuatannya sih, sudah tentu dibantuin Ayah Bunda.
.
Setelah selesai, aku mengajaknya diskusi tentang hasil prakarya ini. Alhamdulillah Althaf sudah paham tentang konsep pemanfaatan sampah. Setelah video yang ditayangkan di sekolah, ia juga semakin mengerti tentang proses daur ulang. Nah, di sini akhirnya aku coba menggali lebih dalam, tujuannya apa sih?
.
Setiap manusia diciptakan sudah beserta rejeki harta yang Allah SWT tentukan. Dari mana dan bagaimana cara menjemputnya akan berbeda. Namun, yang sama adalah setiap harta yang kita miliki akan dipertanggungjawabkan. Digunakan untuk apa? Apakah bermanfaat? Apakah membawa keburukan?
.
Nah, sampah kardus bekas susu, bekas sepatu dan masih banyak lagi benda yang tampak sudah tak bernilai, juga menjadi tanggung jawab kita. Daripada dibuang begitu saja, tanpa manfaat tambahan, mari kita coba tingkatkan derajatnya. Salah satu caranya dengan proses daur ulang (recycle), selain penggunaan kembali (reuse) dan pengurangan benda yang menghasilkan sampah (reduce).
.
Akhirnya Althaf menyadari, barang-barang yang sebelumnya hanya dipahami sebagai sampah dan berubah menjadi lebih bermanfaat. Contohnya kardus bekas yang ia buat, kini bisa menjadi alat permainan. Lumayan gak perlu keluar uang lagi untuk beli mainan, jadi lebih hemat deh! MasyaaAllah… Tabarakallah...
.
#hari2
#gamelevel8
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#CerdasFinansial
#IIPxBundyta
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional
@ibuprofesional.depok



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan