Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #7 Tantangan Hari #11


•Bernyanyi Bersama•
Bismillahirrahmaanirrahiim… Punya anak dua orang lelaki, jarang banget bisa duduk tenang berdua. Ada aja keributan yang diperbuat mereka. Entah rebutan mainan atau makanan. Kadang yang satu jahil, yang satunya lagi baper. Kalau yang satu lagi tenang, yang satunya lagi malah mancing-macing.
.
Alhasil, rumah gak pernah sepi dan gak pernah rapi. Kalau Althaf (6th) sekolah, pasti Albarra (2th) kesepian. Tapi pas giliran bertemu, gak lama melepas rindu, mereka kembali berseteru. Ck.. ck.. “Terima kasih Yaa Allah, Aku sangat bersyukur punya 2 anak sholeh ini. Cukup dua ya! Aamiin.”
.
Namun, kemarin berbeda. Mereka bisa loh kompak berdua. Duduk diam sambil memandang langit yang sedang manja alias mendung. Hehe… Ternyata perlahan aku dengarkan mereka bukan sedang melamun, melainkan sedang asik bernyanyi bersama. MasyaaAllah… Tabarakallah…
.
Jadi ini yang bikin kalian sedikit tenang? Seneng banget nyanyi ternyata keduanya. Hahaha… Walaupun beberapa saat kemudian heboh lagi sih. Gapapa, Nak! Itu yang akan kita rindukan bersama kelak di masa depan. Yang penting kalian akur terus dan saling menyayangi ya, kedua bintangnya Bundyta. Aamiin Allahumma Aamiin.
.
#hari11
#gamelevel7
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#semuaanakadalahbintang
#BintangnyaBundyta
#kuliahBunSayIIP
#IIPxBundyta
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang