Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #6 Tantangan Hari #8


•Klasifikasi Alat Mewarnai•
.
Bismillah… “Mamas sudah berangkat sekolah, mari kita acak-acak semua barang miliknya…!” Kata Albarra (2 th) mungkin yaa.. Hahaha… Setiap barang yang Mamas pegang, Adek pengen. Setiap aktivitas yang Mamas lakukan, Adek ikutan. Yaa mungkin memang setiap kakak adalah sosok keren bagi adiknya, sehingga menjadi “role model” nomor wahid yang akan selalu ditiru.
.
Pagi ini giliran perlengkapan mewarnai Mas Althaf diacak-acak. “Bebas Nak! Bebas… Bunda mau mandi sebentar kemudian kita rapikan bersama kalau sudah selesai ya?” Ucapku sambil bersyukur ada pengalihan, daripada ditungguin depan pintu kamar mandi kan jadi tak bisa konsentrasi.
.
Baiklah, saatnya kita merapikan sambil belajar memahami warna dan jenis - jenis alat mewarnai. Hasilnya, Albarra baru bisa membedakan warna pink (favorit emaknya) dan warna merah (favorit kakaknya), serta biru yang selalu diucapkannya. Ia juga mencoba meraut pensil warna, “Oo… Ini yang Bunda?” Responnya terkejut melihat pensil tumpuk bisa menjadi runcing saat diraut.
.
Alhamdulillah yang sudah dikuasai adalah klasifikasi jenis alat mewarnai. Kami memasukkan satu per satu sesuai tempatnya. Ada tempat pensil warna, tempat spidol dan tempat crayon. Oh iya, ada sedikit tantangan karena beberapa krayon yang dimiliki berbeda ukuran dengan tempat berbeda pula. Perlahan Albarra pun bisa menyelesaikan tantangan ini. MasyaaAllah… Tabaakallah… 
.
Pada aktivitas ini banyak sekali yang bisa Albarra pelajari. Serunya meraut pensil, klasifikasi warna dan jenis alat mewarnai, dan berhitung bilangan 1 - 10 saat memasukkannya. Kemudian ada pula proses mengasah logika saat krayon besar tak bisa masuk ke tempat crayon kecil, berarti tempatnya keliru. Walaupun pada awalnya terlihat kesal, ia kemudian bersabar mencari tempat yang sesuai. Alhamdulillah…
.
#hari8
#gamelevel6
#ilovemath
#matharoundus
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#menstimulasikecerdasanmatematislogis
#institutibuprofesional
#kuliahBunSayIIP
#IIPxBundyta
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan