Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #6 Tantangan Hari #7


 •Bagi - Bagi Buah•
.
Bismillah… Mari kita makan buah bersama Althaf (6 th) dan Albarra (2 th). Seperti biasa, beda anak beda juga kesukaan. Kalau Althaf lebih suka pisang dan jeruk, Albarra lebih suka buah naga dan jeruk. Qadarullah, kali ini aku cuma punya pisang dan buah naga. Maksud hati, boleh lah masing-masing saling coba, sekaligus belajar saling berbagi.
.
Awalnya sih mudah, “Ini buah naga punya Albarra ya, kalau ini pisang punya Mamas.” Mereka pun setuju sampai aku bilang, “Mamas minta buah punya Adek, boleh ya?” Albarra yang egosentris-nya masih kental sontak tak setuju. Kalau Althaf sih oke-oke aja berbagi pisang, wong dia juga sebenarnya suka juga buah naga.
.
Tantangan muncul, “Nah, sekarang saling berbagi ya, ini Adek buah naga-nya dipotong, dibagi jadi 2. Aku pun mengambil pisau dan talenan. Buat Adek 1, buat Mamas 1.” Mulai oke sih dia, yang penting kayaknya ada bagian yang menjadi miliknya. Di sisi lain, Althaf belajar konsep pembagian sederhana dengan pisang yang dipotong juga.
.
Pisang berjumlah satu dibagi dua, menjadi setengah, setengah dibagi dua lagi, menjadi seperempat. “Jadi awalnya pisang ini satu, ini namanya setengah, yang ini seperempat.” Aku pun sambil memberi contoh. Namun, sampai di situ saja belajar konsep pembagian, karena semua sudah sibuk makan. Apalagi pisangnya, hanya sempat difoto saat awal saja, karena Mamas tak sabaran langsung habis disantap.
.
Alhamdulillah kalau buah naga agak lama berakhirnya, aku sempat berhitung suapan dengan Albarra. Satu sampai dengan sepuluh, lalu kembali lagi ke angka satu. Hm… Menyenangkan ya, belajar matematika sambil bermain, apalagi kalau sambil makan. Perut kenyang, hati senang, bunda tenang. Hahaha...
.
#hari7
#gamelevel6
#ilovemath
#matharoundus
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#menstimulasikecerdasanmatematislogis
#institutibuprofesional
#kuliahBunSayIIP
#IIPxBundyta
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang