Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #6 Tantangan Hari #4


•Gambar Hewan yang Sama•
.
Bismillah… Kali ini alhamdulillah Mamas Althaf (6 th) dan Adek Albarra (2 th) lagi akur dan kompak mau main sambil belajar bareng. Dengan berbekal buku bekas sekolah TK, Mamas ngajarin adek melakukan klasifikasi gambar hewan sejenis yang ada pada stiker.
.
Althaf memberi instruksi, Albarra menjalani. Satu per satu stiker berpindah, gambar yang sama ditempel berdekatan. Albarra pernah salah tempel gak? Sering. Hahaha… Apalagi kalau hewan berkaki empat yang mirip, seperti badak, sapi, dan gajah. Althaf terkadang juga sampai marah karena tak sabar.
.
Namun, selain klasifikasi, aku pun mencoba melemparkan pertanyaan kepada mereka berdua. “Mana hewan yang paling banyak? Mana hewan yang paling sedikit?” Tentu mudah bagi Althaf yang sudah bisa berhitung, walaupun begitu Albarra juga bisa menebak dengan benar, karena panjang/ besarnya kelompok stiker berbeda.
.
Sambil aku jelaskan ke Albarra juga, yang ini banyak, yang ini sedikit. Belajar berhitung juga akhirnya, 1, 2, 3, dst. Nah, kalau Althaf sambil melakukan perbandingan seperti, “ini lebih banyak > dari itu, itu kurang < dari ini, ini sama dengan = itu” lengkap dengan penjelasan tanda baca.
.
Hal menarik lainnya, Albarra kini sudah bisa mengerti “Belum selesai/ masih ada/ sudah”, karena tiba-tiba ketika semua stiker selesai ditempel. “Yah, habis deh semuanya!” Aha! Dari aktivitas sederhana begini saja alhamdulillah banyak hal yang bisa kita pelajari ya? Hm… Kira-kita apalagi ya, aktivitas untuk meningkatkan kecerdasan matematis logis yang sederhana? Share yuk!
.
#hari4
#gamelevel6
#ilovemath
#matharoundus
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#menstimulasikecerdasanmatematislogis
#institutibuprofesional
#kuliahBunSayIIP
#IIPxBundyta
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story