Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #6 Tantangan Hari #2


•Problematika Uang Koin•
.
Bismillah… Pagi-pagi sudah terjadi keributan di rumah. Biasalah antara ibu dan anak, apalagi kalau bukan urusan sekolah, mulai bangun tidur, mandi, sarapan, sampai perlengkapan sekolah seperti seragam, sepatu, dan tas. Kali ini terkait infaq Jum’at, seperti biasa siswa diminta membawa sejumlah uang ke sekolah untuk dikumpulkan dan kelak disumbangkan.
.
Qadarullah, baik bunda maupun ayah, uangnya lagi besar-besar banget (belum digunting, haha…). Akhirnya, aku pun mengumpulkan beberapa keping uang Rp1.000 dari beberapa dompet ke Althaf (6 th). Althaf menolak, tak mau uang receh koin, maunya kertas. Aku jelaskan uang kertas gak ada, ini sama saja kok jumlahnya.
.
“Gak mau, takut berantakan!” Althaf menjelaskan.
“Dimasukkan ke saku tas depan ini aman kok.”
“Aku nanti ngambilnya aduk-aduk itu susah, Bun! Ada banyak benda di situ.”
“Yaudah kita cari tempatnya. Dompet kamu ya?” Saran dariku.
Althaf beri masukkan, “Plastik aja, masukin dompet, karna resleting dompetnya rusak.”
“Hm… Oke kalau begitu.”
.
Sambil sarapan, sambil ribut, tak apalah. Setidaknya permasalahan ini membuatnya berlatih untuk memikirkan berbagai kemungkinan dari sebuah tindakan. Kalau begini, jadi begini. Kalau begitu, ya jadi begitu. Akan selalu ada sebab, ada akibat, tapi tentu ada solusi juga kan? Aha! Kita kembali belajar tentang logika, Nak… MasyaaAllah… Tabarakallah… Kamu punya cerita lain tentang berlogika di sekitar kehidupan sehari-hari? Share yuk!
.
#hari2
#gamelevel6
#ilovemath
#matharoundus
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#menstimulasikecerdasanmatematislogis
#institutibuprofesional
#kuliahBunSayIIP
#IIPxBundyta
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2

•Game Level #2 Tantangan Hari #2• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan. . “Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?” Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja. “Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?” Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.” “Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.” “Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek. “Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.” “Ah, gak mau ah, ayam aja deh…” Pak suami yang duduk di samp