Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #6 Tantangan Hari #16


•Korban Iklan•
.
Bismillah… Mengajak anak berbelanja itu banyak enaknya, tapi kadang juga ada gak enaknya. Apalagi kalau lagi ada promosi macem begini (pakai iming-iming tokoh kartun favorit anak) heuh… Dompet bunda jadi terancam deh, Nak!
.
Althaf (6 th) akhirnya jadi korban iklan susu UHT, padahal gak pernah beli, tapi akhirnya terpaku di sebuah lorong yang begitu menarik perhatiannya. Bukan merk atau rasa susunya, tapi gambar t*b*t yang membuat dia langsung saja memenuhi keranjang belanja dengan susu berbagai gambar.
.
Dibilang beli satu karton, gak mau, karena mau pilih sesuka hati. Aha! Sekalian deh disuruh ngitung sendiri, bunda muter dulu yaa.. Nyatanya dia kesulitan, bolak balik berhitung kok salah karena jumlahnya kebanyakan dan susunannya berantakan. Akhirnya aku minta ia susun menjadi 6 kotak, sebanyak 3 lapis. Belajar matematika deh, 6 kotak dikali 3 lapis, ini namanya 6 x 3 atau 6+6+6, jadi 18. 
.
Demikianlah sampe diliatin orang-orang karena bunda ngajarin di lorong-lorong swalayan dengan suara kencang, hahaha… Keesokan harinya, dia bilang, “Bun, kemarin pas mau bayar aku nemu lagi 2 kotak gambarnya berbeda di tempat lain. Jadi totalnya berubah Bun?” Akhirnya aku pun menguji dengan pertanyaan, “Terus kalau begitu totalnya jadi berapa? Ditambah atau dikali 2?”
.
Sambil berpikir dan menyusun kotak susu Althaf menjawab, “18 + 2 = 20 Bun, totalnya jadi 20” Alhamdulillah Althaf kini sudah paham contoh nyata proses penjumlahan dan pengalian. Nah, kalau bentuk kotak begini, bisa juga langsung dihitung secara horizontal x vertikal (4 x 5 = 20). Udah ngerti? Belum lha… Besok besok ya kita belajar lagi. Hehe..
.
#hari16
#gamelevel6
#ilovemath
#matharoundus
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#menstimulasikecerdasanmatematislogis
#institutibuprofesional
#kuliahBunSayIIP
#IIPxBundyta
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir