Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #6 Tantangan Hari #12


•Kesepakatan Durasi•
.
Bismillah… Selamat memulai pekan yang sibuk, senyum semangat menyapa Senin yuk! Aku mengawali hari ini dengan menyadari bahwa semakin lama Althaf (6 th) semakin memahami konsep waktu. Alhamdulillah, komunikasi jadi semakin mudah, tapi konsekuensinya ya kamu semakin sering membuat kesepakatan, ia bukannya sekedar mengikuti aturan. Fiuh, peran menjadi orang tua semakin menantang!
.
Apalagi semenjak masuk SD, semua jadwal diubah total, terutama tentang waktu bermain. Oke! Sekolah sampai siang, bahkan Senin dan Selasa sampai sore karena ada ekskul. Sementara itu, waktu untuk bermain bersama keluarga di malam hari, mulai pukul 7 malam sampai menjelang tidur. Jadi kita bisa bermain bersama, makan, atau sekedar berbincang.
.
Permasalahan muncul di sore hari, waktu TPA di Masjid bertepatan dengan waktu bermain sore di luar rumah. Akhirnya kami berdua berdiskusi dan sepakat bahwa durasi bermain tetap, yaitu 90 menit, biasanya untuk bermain bola, sepeda, otoped, bola, dll. Namun, kendala waktu yang sempit untuk hari Senin dan Selasa.
.
Akhirnya jadwal perlu diatur kembali, Senin dan Selasa tetap bermain seperti biasanya, karena pulang sore dan tak sempat ke masjid, diputuskanlah mengaji bersama bunda ba’da Maghrib. Sementara hari lainnya tetap ke Masjid untuk TPA di sore hari dengan mengubah susunan jadwal main. Main dulu, baru mengaji.
.
Aha…! Kami ternyata belajar tentang durasi waktu. Akhirnya diskusi terus mengalir, durasi waktu untuk persiapan sekolah di pagi hari. Kalau Althaf bagun lebih awal, durasi menonton tv jadi lebih banyak. Berbeda saat bangun terlambat, durasi menonton tv bisa berkurang atau malah hilang, karena durasi mandi selama 15 menit dan makan selama 30 menit tetap sama. Sementar berangkat wajib 06.30 teng agar tepat waktu.
.
Ahamdulillah dengan mempelajari durasi waktu, kini pertanyaanku bisa sedikit diubah. Dulu pertanyaannya, “Althaf mau main sampai jarum panjang di angka berapa?” Lalu biasanya menjawab sambil melihat jam, “Tiga. Kini pertanyaanku “Althaf berapa lama lagi mau main?” Ia pun melihat sambil berhitung, “Sepuluh Menit!” MasyaaAllah… Tabarakallah...
.
#hari12
#gamelevel6
#ilovemath
#matharoundus
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#menstimulasikecerdasanmatematislogis
#institutibuprofesional
#kuliahBunSayIIP
#IIPxBundyta
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir