Langsung ke konten utama

Kelas Matrikulasi - NHW #2

Manajemen Waktu

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Langkah demi langkah dijalani untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dicintai, lebih membanggakan, dan lebih PROFESIONAL. Di Institut Ibu Profesional, saya belajar untuk memahami diri saya sendiri, menemukenali tujuan hidup, dan memperjelas hal-hal apa saja yang dapat membuat diri saya menjadi pribadi yang lebih baik, sehingga tujuan hidup saya dapat tercapai. Saya mencatat hal-hal apa saja yang dapat membantu saya meraih harapan tersebut sebagai indikator profesionalisme sebagai seorang individu menuju ibu profesional kebanggan keluarga. Semoga apa yang dituliskan dapat saya jalankan dengan istiqomah.
Saat ini, sebagai seorang istri dan juga seorang ibu, tantangan saya lebih besar, yakni menjadi Ibu Profesional. Indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional adalah dengan menjadi kebanggaan suami dan anak-anak. Dengan ini, saya pun menggali karakteristik istri seperti apa yang diharapkan dan dibanggakan oleh suami saya. Begitu juga dengan anak-anak, seperti apakah ibu yang bisa membuat mereka bahagia dan bangga.

Setelah berbincang santai dengan suami, muncullah beberapa harapan dari saya sebagai seorang istri. Awalnya, ia begitu semangat menggoda dengan berbagai harapan sempurna dari istrinya ini. Namun, di hari kedua, kami bicara dari hati ke hati. Sebagaimana yang juga telah kami jalani selama enam tahun bersama, kami tak saling menuntut. Keinginan untuk menjadi lebih baik dalam menjalankan peran masing-masing adalah kunci keharmonisan keluarga kami.

Alhamdulillah... Suami sangat mendukung proses belajar saya di Institut Ibu Profesional. Baginya, niat saya ini sudah menjadi sebuah ikhtiar yang sangat baik. Ia tak segan mereview tulisan NHW (nice home work) saya yang pertama. Saat berbincang mengenai NHW kedua ini juga ia terlihat excited. Setelah berhasil menggoda dengan harapan setinggi langit, kini ia sampaikan perubahan yang lebih realistis. Walaupun sebenarnya beberapa hal sudah dilakoni setiap hari, saya hanya dimintanya lebih konsisten menjalaninya. Terima kasih Pak Suami, insyaAllah akan coba saya capai kata profesional itu sesuai indikator yang kita buat bersama. Semoga kamu bahagia dan bangga. Kiss.

Teruntuk anak-anak, saya belum bisa bertanya secara langsung kepada keduanya. Kemarin saya mencoba menggali informasi sambil bermain kepada Kakak Althafaro yang kini berusia lima tahun. Ia menyampaikan bahwa kebahagiaan dirasakan saat saya bisa menemaninya bermain, membacakan buku, dan mengantar serta menjemput sekolah. Oh, satu lagi yaitu membuat cemilan kesukaannya, stik keju, donat kentang, telur gabus keju, atau sekedar membuatkan jus kesukaannya, jus jambu biji.

Sementara itu, Adik Albarra di usianya yang ke-14 bulan hanya bisa saya perhatikan melalui respon positifnya. Sampai saat ini, minum ASI (Air Susu Ibu) dan makan MPASI (Makanan Pendamping ASI) masih menjadi kebutuhan pertama fisiknya. Sedangkan keberadaan bunda selama 24 jam di sampingnya adalah kebutuhan utama afeksinya. Raut wajah bahagia juga muncul ketika kami bermain bersama dan saya mengajaknya bercanda dengan aktivitas yang dapat meningkatkan tumbuh kembangnya.

Setelah proses interview dan observasi ditambah dengan perenungan, berikut dibawah ini adalah "Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan" versi Cindyta Septiana. Saya buat dengan tenggat waktu satu bulan agar dapat dievaluasi lebih cepat dan saya mulai dari hal-hal sederhana agar target dapat dibuat meningkat. Semoga Allah SWT memberikan jalan, memberikan kemudahan serta keberkahan dalam menjalaninya. Selain istiqomah menjalaninya sehingga dapat membanggakan suami dan anak-anak, semoga bisa menjadi makhluk-nya yang lebih mulia. Aamiin Allahumma aamiin.

A. SEBAGAI INDIVIDU

Pengembangan Spiritual
  • Dalam 1 bulan, setiap hari bangun pagi shalat subuh tepat waktu
  • Dalam 1 hari, minimal 3 kali, shalat fardhu di awal waktu
  • Dalam 1 minggu, minimal 2 hari, Qiyamul lail (shalat sunnah malam)
  • Dalam 1 minggu, minimal 5 hari, Shalat Dhuha
  • Dalam 1 minggu, minimal 5 hari, Dzikir pagi dan sore
  • Dalam 1 minggu, minimal 5 kali, tilawah Al-Quran ba’da shalat
  • Dalam 1 minggu, minimal 1 kali, puasa sunnah
  • Dalam 1 bulan, minimal 3 kali, belajar tahsin (memperbaiki bacaan Al-Quran) ahad
Pengembangan Psikologis
  • Dalam 1 bulan, setiap akhir pekan, melakukan Muhasabah Diri (berdialog dengan diri sendiri) evaluasi dan perenungan konsistensi untuk mencapai indikator Ibu Profesional
Pengembangan Intelektual
  • Dalam 1 hari, minimal 1 kali, membaca artikel online
  • Dalam 1 bulan, minimal 1 kali, membaca 1 buah buku beragam tema
  • Dalam 1 bulan, minimal membaca buku parenting dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari
  • Dalam 1 minggu, minimal 1 kali menulis di blog/ posting di media sosial (konten harus  positif dan bermanfaat)
Pengembangan Sosial
  • Dalam 1 minggu, minimal 1 kali menghubungi orang tua melalui telepon atau pesan singkat
  • Dalam 1 bulan, minimal 1 kali mengunjungi orang tua atau bertemu dalam sebuah acara
  • Dalam 1 bulan, minimal 2 kali silaturrahim dengan warga komplek (misalnya pengajian, posyandu, senam pagi, dsb.)
  • Dalam 1 bulan, minimal 2 kali silaturrahim dengan guru/ wali murid sekolah anak
  • Dalam 1 bulan, minimal 1 kali silaturrahim dengan komunitas online secara aktif (bukan silent reader)
  • Dalam 1 bulan, minimal 1 kali silaturrahim dengan keluarga dan teman jauh
Pengembangan Fisik
  • Dalam 1 minggu, minimal 3 kali berolahraga sore di rumah
  • Dalam 1 bulan, minimal 1 kali berenang

B. SEBAGAI ISTRI

Dukungan Spiritual
  • Dalam 1 minggu, minimal 3 kali, membangunkan suami sebelum waktu subuh
  • Dalam 1 minggu, minimal 3 kali, mengingatkan suami untuk shalat berjamaah di masjid, shalat Dhuha, tilawah Al-Quran, Qiyamul Lail, dan dzikir
  • Dalam 1 minggu, minimal 1 kali, membersamai suami untuk puasa sunnah
  • Dalam 1 bulan, minimal 1 kali mengikuti kajian islam bersama (online atau offline)
Dukungan Emosional
  • Dalam 1 bulan, setiap hari kerja, mengantar sampai pintu dan menyambut suami pulang kerja
  • Dalam 1 minggu, minimal 1 kali masak masakan request suami
  • Dalam 1 minggu, minimal 5 kali sharing tentang keseharian (misalnya tentang kantor/ kondisi di rumah/ tentang anak-anak dsb.)
  • Dalam 1 minggu, minimal 1 kali quality time berdua saja
  • Dalam 1 bulan, setiap hari, makan malam bersama atau menemani sambil berbincang
  • Dalam 1 bulan, minimal 1 kali, memberikan waktu kepada suami untuk me time, sementara saya menjaga anak-anak
Dukungan Intelektual
  • Dalam 1 bulan, minimal berdiskusi bersama tentang parenting (hasil membaca atau seminar)
Dukungan Sosial
  • Dalam 1 minggu, minimal 1 kali menghubungi mertua melalui telepon atau pesan singkat
  • Dalam 1 bulan, minimal 1 kali mengunjungi mertua atau bertemu dalam sebuah acara
  • Dalam 1 bulan, minimal 1 kali ikut bersama suami silaturrahim ke rumah teman/ memenuhi undangan teman/ menghadiri acara teman
Dukungan Fisik
  • Dalam 1 bulan, minimal 1 kali, olah raga bersama












C. SEBAGAI IBU

Anak pertama, Althaf, usia 5 tahun, TK B || Anak kedua, Albarra, usia 1 tahun

Dukungan Spiritual
  • Dalam 1 hari, minimal 2 kali, mengajak Althaf shalat berjamaah
  • Dalam 1 minggu, minimal 3 kali, menemani Althaf membaca Iqro
  • Dalam 1 minggu, minimal 3 kali, menemani Althaf menghafal Surat Al-Quran (minimal juz 30)

Dukungan Emosional
  • Dalam 1 hari, minimal 1 kali masak makanan sehat untuk anak-anak
  • Dalam 1 hari, minimal 1 jam fokus bermain bersama Althaf (saat Albarra tidur siang)
  • Dalam 1 hari, minimal 2 jam fokus bermain bersama Albarra (saat Althaf sekolah)
  • Dalam 1 minggu, minimal 1 kali bikin kue camilan untuk anak-anak
  • Dalam 1 bulan, setiap hari sekolah, menyiapkan perlengkapan sekolah Althaf
  • Dalam 1 bulan, setiap hari sekolah, mengantar dan menjemput Althaf
  • Dalam 1 bulan, setiap hari menyiapkan perlengkapan mandi/ pakaian anak-anak
  • Dalam 1 bulan, setiap hari, 3 kali menyiapkan makan anak-anak
  • Dalam 1 bulan, setiap saat menyusui ASI jika diinginkan Albarra hingga berusia 2 tahun
  • Dalam 1 bulan, setiap saat hadir jika dibutuhkan Albarra
Dukungan Intelektual
  • Dalam 1 hari, minimal membacakan 1 buku Althaf dan 1 buku Albarra
  • Dalam 1 minggu, minimal 2 kali, mengenalkan Althaf “calistung” (dalam Bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab)
  • Dalam 1 bulan, hanya 1 jam per hari sekolah dan akhir pekan, mengontrol waktu Althaf untuk screen time
  • Dalam 1 bulan, minimal mengajarkan 4 keterampilan baru kepada Albarra (misalnya memperkenalkan ucapan kata, suara, perilaku, benda, kegiatan, dsb.)
Dukungan Sosial
  • Dalam 1 minggu, minimal 3 kali mengajak Althaf bermain bersama teman-teman lingkungan rumah
  • Dalam 1 bulan, minimal 3 kali jalan-jalan santai di lingkungan rumah pagi atau sore hari bersama Albarra
  • Dalam 1 bulan, minimal 1 kali mengajak anak -anak silaturrahim dengan keluarga dan kerabat
Dukungan Fisik
  • Dalam 1 minggu, minimal 3 kali olah raga bersama anak-anak (misalnya berenang di akhir pekan atau olahraga sore bersama di rumah)

Demikian, Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan versi Cindyta Septiana. Semoga apa yang dibuat dengan sungguh-sungguh ini, tak hanya untuk memenuhi tugas NHW, tapi bisa bermanfaat bagi kehidupan nyata sehari-hari. Sehingga kelak saya benar-benar bisa menjadi MAKHLUK MULIA DIHADAPAN ALLAH SWT dan menjadi seorang IBU PROFESIONAL KEBANGGAAN KELUARGA. Aamiin Allahumma Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…