Langsung ke konten utama

Kelas Matrikulasi - NHW #1

ADAB MENUNTUT ILMU
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini!

Sesungguhnya banyak sekali ilmu yang ingin saya pelajari, tetapi saat ini saya merasa sangat membutuhkan salah satu ilmu yang dapat digunakan untuk mendukung semua jenis ilmu. Sesuai dengan Motto hidup saya “3B” (Belajar, Berbagi, Bermanfaat), maka saya ingin sekali menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang dengan berbagi ilmu yang saya pahami. Sebelum itu tentunya saya sendiri perlu memperkaya diri dengan banyak ilmu pengetahuan.

Ilmu datang silih berganti ditampung oleh keterbatasan memori yang saya miliki. Dengan demikian, saya perlu memiliki kemampuan menyerap ilmu dengan optimal melalui membaca dan memahami. Saya pun harus mengikat ilmu tersebut dengan sebuah tulisan. Sehingga jika kelak kontrak saya habis di dunia, amal tetap mengalir dari ilmu yang saya tuliskan. Seperti yang kita ketahui, salah satu amalan yang tak putus jika kita telah meninggal adalah ilmu yang bermanfaat. “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim]

Bismillahirrahmanirrahim. Diawali tujuan menjadi orang yang bermanfaat, dengan cara melakukan proses belajar memahami segala ilmu yang saya temui dan berbagi atas ilmu yang saya miliki. Dengan ini, saya insyaAllah akan menekuni Jurusan Ilmu Literasi, Program Studi Keluarga. Semoga kelak saya bisa benar-benar menyerap ilmu-ilmu apapun yang saya pelajari terkait keluarga, kemudian menuliskan segala pengetahuan dan pengalaman saya tersebut. Sehingga bisa menjadi manfaat, berbentuk inspirasi maupun memotivasi bagi banyak orang. Aamiin… Allahumma Aamiin...

2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?

Beberapa waktu terakhir saya melihat kesuksesan teman-teman di media sosial. Mereka tak hanya sukses bagi diri sendiri tapi juga banyak berbagi kepada orang lain. Sejujurnya, saya merasa belum bisa sehebat mereka saat ini. Saya pun coba merenungi apa yang berbeda di antara kami. Saya mencoba mengingat kebiasaan mereka saat sekolah/ berkuliah/ bekerja dahulu kala. Saat kami saling bertukar pikiran,  berbagi pengalaman, dan secara langsung bekerjasama dalam berbagai kesempatan. Ternyata wawasan mereka begitu luas, tujuan hidup mereka jauh ke depan, impian mereka sangat tinggi, sehingga tak heran dengan apa yang mereka capai saat ini.

Berdasarkan proses introspeksi diri, saya baru menyadari bahwa membaca akan membedakan pola pikir, gaya komunikasi, dan perilaku. Hal ini luput dari perhatian saya selama ini. Sekolah terlewati, kuliah dan kerja pun demikian, saya jalani tapi hanya bertujuan untuk menyelesaikan tugas yang ada. Apa yang saya lakukan tidak ada yang “nyantol” sampai sekarang. Padahal Yang Maha Memiliki Ilmu sudah mengatakan, “Iqro” untuk memahami segala sesuatu yang ada di dunia ini. Sementara saya merasa kurang banyak membaca, belum optimal mengolah informasi yang didapat, sehingga belum bisa berbagi dengan menghasilkan sebuah karya.

Menyesali apa yang sudah berlalu tak akan ada artinya, sehingga saya merasa perlu memperbaiki diri untuk menjadi manusia yang lebih unggul, yang senantiasa meningkatkan ilmu pengetahuan. Sebagai seorang ibu, saya sadar kini memiliki peran penting dalam keluarga. Ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya, sementara Ayah adalah kepala sekolahnya. Oleh sebab itu, saya merasa perlu menciptakan budaya membaca di dalam keluarga. Sedangkan ayah diperlukan kerjasamanya untuk bisa memimpin kami semua, dalam menumbuhkan rasa cinta pada membaca. Berawal dari keluarga, saya bermimpi untuk membuat sebuah gerakan yang lebih besar lagi. Sehingga manfaat dari membaca juga dapat dirasakan oleh banyak orang. 

Sebagaimana yang telah saya sampaikan pada jawaban dari pertanyaan pertama di atas, saya ingin sekali mempelajari Ilmu Literasi. Istilah literasi dalam bahasa latin disebut sebagai Literatus yang artinya adalah orang yang belajar. Dalam KBBI, Literasi berarti kemampuan menulis dan membaca; pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu; kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.

Lebih lanjut lagi, UNESCO juga menjelaskan bahwa literasi adalah seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks dimana keterampilan yang dimaksud diperoleh, dari siapa keterampilan tersebut diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya. Menurut UNESCO, pemahaman seseorang mengenai literasi ini akan dipengaruhi oleh kompetensi bidang akademik, konteks nasional, institusi, nila-nilai budaya serta pengalaman.

Sesuai dengan definisi di atas literasi tak hanya terbatas pada membaca dan menulis, tetapi sampai pada proses menganalisa dan memahami. Sementara itu, pengetahuan yang didapat melalui proses membaca sampai memahami tak akan ada artinya tanpa mengembangkannya dan memanfaatkannya.

Terkait dengan hal tersebut, saya menyayangkan 30 tahun kehidupan yang lewat begitu saja tanpa sebuah karya. Padahal saya pernah mengalami kondisi hidup yang naik, turun, senang, sedih, ditambah lagi dengan beberapa proses perjuangan. Semuanya dilalui tanpa rekam jejak, baik itu keberhasilan maupun kegagalan. Biasanya saya hanya bercerita dengan keterbatasan memori yang saya punya, yang terkadang dapat mengurangi makna.

Begitu juga dengan ilmu yang saya dapatkan selama saya hidup hingga saat ini. Sesungguhnya saya senang mencari ilmu, belajar, dan berkegiatan. Namun, saat ini berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman menguap begitu saja. Mungkin saja cara saya menyerap ilmu belum optimal, apa yang saya pelajari tidak begitu mengena dan kurang terinternalisasi. Contohnya, Ilmu Psikologi yang saya tekuni selama berkuliah hingga menjadi seorang Sarjana Psikologi. Ditambah dengan pengalaman pelatihan dan organisasi, kini seperti tiada arti.

Saya ingin sekali memiliki warisan pengetahuan atau pengalaman yang saya alami dalam bentuk tulisan. Walaupun saat ini sudah banyak bentuk dokumentasi berupa foto atau video, sebuah tulisan akan memberikan nyawa tersendiri. Harapan saya ini tentunya tak hanya untuk diri sendiri, tapi juga suami dan anak-anak. Setidaknya walaupun kebiasaan membaca tak bisa dituangkan dalam bentuk tulisan. Pengetahuan kita akan semakin banyak, proses analisa semakin terasah, dan pola pikir semakin kompleks. Sehingga cara berkomunikasi pun bisa menjadi lebih baik, membuat kehidupan keluarga menjadi bermakna. Dengan ini pula saya yakin, kelak insyaAllah anak-anak akan siap menghadapi masa depan mereka dan mereguk kesuksesan dunia akhirat. Aamiin. Semoga apa yang saya cita-citakan ini pun dapat menularkan manfaat dimulai dari lingkungan terdekat hingga orang banyak. Allahumma aamiin...


3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?

  • Diri Sendiri
  • Membuat blog pribadi bertema keluarga
  • Membeli buku baru sebulan sekali
  • Mengikuti komunitas membaca
  • Mengikuti lomba menulis
  • Membaca minimal satu artikel dalam sehari
  • Membaca minimal satu buku per bulan
  • Membuat catatan kecil dari artikel yang dibaca (review/ respon/ insight)
  • Membuat review buku yang dibaca (resensi buku)

  • Kerja sama dengan suami
  • Menumbuhkan budaya literasi di rumah
  • Menempatkan buku-buku agar mudah dijangkau
  • Menghadiri bazar buku
  • Mengunjungi toko buku setiap bulan
  • Mengunjungi perpustakaan
  • Mengunjungi museum atau wisata edukasi
  • Membuat lembar hasil bacaan dan tulisan
  • Memberikan hadiah buku satu sama lain dan kepada anak-anak

  • Anak - anak
  • Membuat waktu wajib baca, misalnya 15-30 menit sebelum tidur siang/ malam
  • Mendongeng untuk bayi
  • Membersamai anak membaca buku
  • Menanyakan hasil bacaan dan mendiskusikan isi bacaan bersama anak
  • Menuliskan hasil pemikiran anak yang sudah membaca
  • Berlangganan majalah anak 2 mingguan/ bulanan

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?

Dalam mempelajari ilmu literasi, saya akan mencoba untuk menerapkan beberapa adab dalam menuntut ilmu. Mulai dari diri saya sendiri. Sejak awal saya menyadari perlunya ilmu literasi, saya dengan ikhlas akan mengosongkan pikiran, saat membaca sumber pengetahuan tentang literasi. Misalnya, cara membaca efektif, cara memahami sebuah tulisan, atau cara menulis yang baik.

Sementara itu, terkait proses menjadikan membaca dan menulis sebagai sebuah budaya dalam keluarga. Saya akan memaksa diri saya sendiri untuk terus membaca, setiap hari, dan membuat catatan-catatan penting dari sumber bacaan. Mencoba membuat reviu sehingga ada proses analisa di dalam pikiran saya untuk menjadi lebih paham atas apa yang saya baca. Saya juga akan terus berusaha menuliskan hasil pemikiran dari pengetahuan yang saya dapatkan.

Sebagaimana nafkah yang halal dari seorang ayah agar menjadi berkah bagi keluarga, maka ilmu pun demikian. Saya akan selalu berusaha mendapatkannya melalui cara yang halal, sehingga berkah ilmu selalu t︎ercapai. Diawali dengan doa kepada Sang Maha Pemilik Ilmu. Saya akan membiasakan diri saya, suami, dan anak-anak untuk berdoa sebelum membaca atau menulis, agar segala informasi yang diterima dapat mudah untuk diserap.

Saya pun insyaAllah akan membeli buku asli untuk menghargai pembuat karya. Tidak seperti sebelumnya saat kuliah, beberapa kali saya dan kebanyakan mahasiswanya melakukan fotokopi buku asli import yang memang harganya cukup mahal. Semoga niat ini selalu dimudahkan Allah SWT, sehingga saya diberikan rezeki untuk sumber-sumber ilmu. Jikalau memang sumber ilmu berasal dari penyampaian orang lain, misalnya tulisan di internet atau hasil seminar, maka saya akan mencantumkan nama sumber tersebut dalam tulisan saya.

Saat membaca satu sumber dengan sumber yang lain, saya tidak akan menyia-nyiakan apa yang sudah dimiliki, jadi baca dan “kunyah” semua sumber yang ada. Di sini lah proses analisa akan terbentuk. Sehingga kita pun dapat memahaminya dengan baik berbentuk pola pikir, cara komunikasi dan perilaku yang unggul serta mulia. InsyaAllah hasilnya, baik dalam bentuk ucapan maupun tulisan, karya yang dihasilkan dapat memberi manfaat bagi banyak orang. Aamiin.. Allahumma Aamiin.


Referensi definisi:

Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2

•Game Level #2 Tantangan Hari #2• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan. . “Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?” Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja. “Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?” Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.” “Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.” “Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek. “Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.” “Ah, gak mau ah, ayam aja deh…” Pak suami yang duduk di samp