Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #5 Tantangan Hari #7


•Menjangkau Buku•
.
Bismillah… Menstimulasi anak agar suka membaca, salah satunya adalah dengan cara membuat mereka mudah menjangkau bahan bacaan. Kalau di rumah kami, sebenarnya belum punya rak buku yang ideal, mudah dilihat dan dijangkau. Akan tetapi, insyaaAllah cukup dapat digunakan untuk merapikan koleksi buku kami yang belum terlalu banyak dan cukup mudah untuk dijangkau anak-anak.
.
Capek merapikannya? Pasti. Kalau mau rapi terus, buku hanya dibuat pajangan saja dong? Atau ya menunggu anak-anak dewasa, sehingga sudah paham cara mengambil dan mengembalikan buku ke tempatnya. Namun, bukan itu tujuannya kan? Di sini ada proses dimana mereka akan lebih mudah terpapar dengan buku. Menjadikan buku tak hanya sebagai sumber pengetahuan, tetapi hiburan.
.
Koleksi buku pada rak buku di dalam rumah yang mudah dijangkau akan memberi pula kebebasan bagi anak dalam memilih buku yang hendak dibaca. Nah, kalau sudah agak besar dan koleksi buku sudah tak mencukupi, kita bisa mengajak anak-anak ke perpustakaan, toko buku, atau bazar buku. Wah, BBW kapan ya? Favorit keluarga kami nih.. Kalau kamu lebih suka kemana?
.
Alhamdulillah Althaf (6 th) kemarin di perpustakaan, memilih buku yang bagus tentang peran Ayah & Bunda, seperti biasa buku pilihannya adalah buku bergambar atau komik. Sementara Albarra masih cukup terpenuhi kebutuhannya di rumah. Saat ditanya, “Albarra mau baca apa?” Dia langsung menuju rak buku. Lalu mengambil dan membaca (menyebut gambar) semua buku yang ia temukan alias “ngacak-ngacak rak buku”. Hehe… Tak mengapa Nak, kalau begini Bunda ikhlas merapikannya.
.
#hari7
#gamelevel5
#pohonliterasi
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#menstimulasianaksukamembaca
#institutibuprofesional
#kuliahBunSayIIP
#bundytabercerita 
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#owob
#iip
.
@institut.ibu.profesional




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2

•Game Level #2 Tantangan Hari #2• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan. . “Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?” Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja. “Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?” Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.” “Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.” “Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek. “Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.” “Ah, gak mau ah, ayam aja deh…” Pak suami yang duduk di samp