Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #5 Tantangan Hari #14


•Temani Bunda Belajar•
.
Bismillah… Pagi-pagi Albarra (2 th) sudah menemani bunda belajar ke Masjid. Duh, semoga kamu jadi anak sholeh yang cerdas ya, Nak! Aamiin… Biasanya ibu-ibu kalau mengajak anak seperti ini, bekal yang dibawa pasti banyak, termasuk aku.
.
Selain baju ganti dan toiletries, wajib hukumnya membawa minum, snack, serta mainan. Namun, bawaan yang terakhir kadang menjadi dilema nih, kalau sudah bermain bersama, akan ada saja drama. Berebut mainan, atau mainan rusak/ hilang, yang bisa membuat konsentrasi belajar emak jadi berantakan.
.
Nah, kini solusinya kubawakan Albarra buku bacaan serta alat tulis. Alhamdulillah cukup membantunya untuk tetap berada di tempat yang sama sekitar 30 menit. Hahaha… Namun, ternyata karena Albarra masih memerlukan bantuanku saat membaca, bolak-balik dia mengajakku berkomunikasi. “Bun, ini apa? Ice Cream ya?” Kemudian, “Bun, kebakaran! Air Bun!”
.
Jadi, ya memang sesuai dengan perkembangan usianya. Albarra biasanya hanya membolak-balik buku, lalu bicara kata per kata. Namun, sampai ke tahap ini saja sudah buat aku seneng kok, karena sebelumnya buku yang kuberikan hanya untuk dilempar-lempar atau disusun menjadi arena balap mobil. Hahaha… Alhamdulillah ya, Allah… Semoga istiqomah. Aamiin.
.
#hari14
#gamelevel5
#pohonliterasi
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#menstimulasianaksukamembaca
#institutibuprofesional
#kuliahBunSayIIP
#bundytabercerita 
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#owob
#iip
.
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan