Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #5 Tantangan Hari #10



•Belajar Huruf Hijaiyah•
.
Bismillah… Kali ini Althaf (6 th) dan Albarra (2 th) membaca sambil belajar mengenal huruf hijaiyah melalui sebuah cerita. Awalnya belum “ngeh” sih, dengan cerita fiksi ini, pokoknya saat melihat judul kok sepertinya bagus, bercerita tentang petualangan, keberanian dan kebaikan hati. Namun baru saat membaca nama salah satu tokohnya, dalam hati kok aneh ya, “Prince Tsabit”.
.
Ternyata oh ternyata Serial “Petualangan Prince Alif” dari @Mizan ini merupakan buku dongeng yang sekaligus dapat mengajak anak-anak belajar huruf hijaiyah. Althaf pun akhirnya bisa langsung menyebutkan, A untuk Prince Alif, Ba untuk Prince Bahri, Ta untuk Prince Taufik, Tsa untuk Prince Tsabit, dan Ja Prince Jabar. Mohon maaf yang dua buku lagi terselip entah dimana diumpetin Albarra, belum terfoto. Hahaha...
.
Maklum ya, dua anak lelaki ini pun termasuk pelaku buku-buku yang robek di rumah. Biasalah, Mamas lagi asik baca, adek mau juga, lalu diambil paksa. Mamas tak terima, direbut lagi dan akhirnya? Demikianlah… Sepertinya memang aku ini harus lebih giat lagi dalam menyampaikan cara meminta izin dengan baik dan konsep berbagi. Hahaha… Semangattt!!!
.
#hari10
#gamelevel5
#pohonliterasi
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#menstimulasianaksukamembaca
#institutibuprofesional
#kuliahBunSayIIP
#bundytabercerita 
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#owob
#iip
.
@institut.ibu.profesional



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story