Langsung ke konten utama

Pekan ASI Sedunia Part.3 - Sabar


•Sabar•
.
Bismillah… Masih sharing tentang pemberian ASI dalam rangka Pekan Asi Sedunia 2019. Sebelumnya aku sudah sampaikan bahwa DOA dan ILMU adalah dua hal yang sudah dipersiapkan sejak proses kehamilan, diaplikasikan saat tiba persalinan, dan ketika waktu untuk meng-ASI-hi itu datang. Apalagi selain itu? Bagiku ada satu hal yang tak kalah penting, yaitu SABAR.
.
Hampir semua sudah dilakukan, tapi kok masih ada saja kondisi yang di luar kendali? Ya sudah, aku sabar. Akan tetapi, bukan hanya diam dan meratapi ya. Aku mulai dengan menguatkan niat meng-ASI-hi dan meningkatkan keyakinan bahwa diri ini mampu. Bagaimana pun motivasi yang kuat akan memuluskan pencapaian tujuan. Kemudian tularkanlah kepada suami dan keluarga terdekat, agar kita punya “Tim Sukses Meng-ASI-hi” horeee...
.
Aku selalu senang memandang dengan waktu yang lama Althaf dan Albarra saat bayi. Di titik ini aku selalu merasa termotivasi untuk memberi yang terbaik bagi mereka, salah satunya adalah dengan ASI. Kemudian aku melihat teman-teman lain, influencer atau komunitas yang semuanya pro ASI. Bahkan dokter anak pun kupilih yang pro ASI. Mengapa? Untuk mendapat lingkungan positif yang bisa membuatku lebih yakin, kalau mereka bisa, aku juga pasti bisa.
.
Nah, kalau lingkungan yang kurang “pro ASI” bagaimana? Ya sabar, dengarkan saja lalu pantulkan lagi. Hehe.. Apalagi kalau anak nangis terus dan kurus, dibilang sedang lapar dan kurang ASI. Kemudian disuruh makan lebih cepat dari 6 bulan, lalu sufor. Nah, kita sebagai ibu InsyaaAllah orang yang paling tahu kebutuhan anak kita itu apa. Tak perlu khawatir, cek saja perkembangan anak dan selalu yakin bahwa ASI adalah satu-satunya asupan terbaik terutama 6 bulan pertama.
.
Sudah berdoa, berusaha dengan ilmu, cari dukungan dari lingkungan, meningkatkan motivasi, dan meyakinkan diri, masih belum lancar juga? Kasih sabar sekali lagi… InsyaaAllah dengan ilmu yang dipelajari dan pengalaman yang diulangi serta diperbaiki, kita akan semakin kompeten menerapkan bagaimana cara menyusui yang sesuai, anak pun belajar bagaimana cara menyusu yang nyaman.
.
Jadi, memang kuncinya harus SABAR, insyaaAllah segala upaya kita pun dilihat oleh Allah SWT. Sehingga Dia senantiasa memberikan kemudahan, kelancaran, keberkahan, dan keridhaan kepada kita. Agar kita mampu memberi ASI terbaik penuh cinta, nutrisi terbaik untuk jasmani dan rohani bagi si buah hati. Aamiin Allahumma Aamiin.
.
#breastfeedingweek #breastfeedingweek2019 #worldbreastfeedingweek #worldbreastfeedingweek2019 #internationalbreastfeedingweek #internationalbreastfeedingweek2019 #asi #menyusu #menyusui #bundytabercerita #perjuanganmenyusui

Komentar

  1. Ih Bener banget Bun.... Semangat MengASIhi ya, Bun. Saya pun sedang mengASIhi putri ketiga saya sekarang, hehehe.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan