Langsung ke konten utama

Sertifikat: KaMi Menulis IP Depok

Alhamdulillah, aku mendapat tiga jenis sertifikat di Kelas Minat Menulis Ibu Profesional Depok, pada batch kali ini. Bersyukur sekali, Allah mudahkan dan mampukan karena ternyata tak semua mendapat kabar baik ini. Ada yang mendapat 3 juga, bahkan lebih. Akan tetapi, kebanyakan dari peserta KaMi Menulis Depok hanya mendapat 2 sertifikat, bahkan ada yang 1. Nah, mau tau apa saja? Aku share satu per satu yaa...





•Menulis Tentang Kamu•
.
Bismillah… Untuk kali pertama belajar menulis biografi. Perasaan “excited” banget, apalagi saat mengetahui sosok yang hendak dibuat profilnya. Siapakah dia?
.
Bunda Iggo & Iggi, sejak awal sudah bikin aku penasaran, karena nama anaknya sama dengan nama panggilan Pak Suami. Hehe.. Enggak ding! Tertarik dengan feeds instagramnya yang kebanyakan berisi tentang aktivitas anak. Kebetulan Iggo seumuran dengan Althaf dan di usianya saat ini sudah terlihat bakat melukisnya. Wah! Jadi, tambah pengen buru-buru ketemu deh.
.
Setiap hari aku japri kapan bisa kopi darat, “Maafkan Aku ya, Mak!” Qadarullah Ramadhan mempertemukan kami berdua beserta rombongan, untuk bisa ngabuburit sambil ngobrol untuk mengerjakan tugas menulis ini. Alhamdulillah kami pun berhasil menyelesaikan tantangan Menulis Tentang Kamu dengan hasil yang cukup memuaskan, setidaknya bagi kami berdua.
.
Aku pribadi saat membaca tulisan Mak Siska ini langsung senyum-senyum sendiri. Wong orang biasa aja kayak aku gini, kok dibikinin biografinya jadi kesannya lebih keren. Hehehe… “Makasiya Maakk... Kalau tulisanku gimana? Tentu tertolong profil Mak Siska yang memang sangat menarik dan inspiratif, alhamdulillah. Mau baca? Cek di www.bundytabercerita.com yaa.. Judul: Belajar Menulis Biografi.
.
Demikian, mengapa sertifikat ini begitu berarti. Tentu karena Allah SWT yang memudahkan pertemuan kami dan memampukan diriku untuk bisa menyelesaikannya. Alhamdulillah…


•One Week One Writing•
.
Bismillah… Ini sertifikat terberat bagiku untuk mendapatkannya. Sungguh, deg-deg-an setiap kali tema baru datang. Apalagi kalau yang diangkat itu topik yang menantang, jauh dari keseharian dan di waktu yang selalu dirasa kurang. Seminggu sekali sih, tapi kalau mengarang bebas atau sekedar curhat, mungkin lebih mudah yaa.
.
Akhirnya, setiap tema itu aku buat hampir tak pernah di hari-hari pertama. Biasanya aku membutuhkan 2-3 hari untuk memikirkan tulisan apa yang ingin kubuat, kalau sudah ketemu, alhamdulillah proses menulis akan lebih cepat. Lagi-lagi, kalau curhat itu lebih mudah, Gaes!!! Akhirnya tulisan yang dikumpulkan pun lebih banyak non-fiksi, hanya sekitar 2 tulisan saja sepertinya yang kubuat fiksi.
.
Oh iya, di tantangan kali ini sebenarnya ada pilihan untuk tulisan terfavorit, tapi tulisanku belum ada yang “nyantol” di hati teman-teman nampaknya. Hehe.. Atuhlah yang difavoritkan hampir semuanya fiksi. Ketahuan deh, kalau imajinasiku masih belum berkembang dengan baik, perlu banyak referensi mungkin ya? Hm...
.
Demikian, mengapa sertifikat ini begitu berarti. Alhamdulillah Allah SWT memudahkanku dan memampukanku untuk menyelesaikan tantangan ini dengan sempurna. Mau baca? Cek di www.bundytabercerita.com yaa.. #OneWeekOneWriting Delapan pekan, dengan delapan tema berbeda. MasyaaAllah… Tabarakallah…


•Cerita Berantai•
.
Bismillah… Ini adalah sertifikat yang tak terduga. Awalnya agak sedikit menyepelekan. Ah, gampang lah! Paling juga cerita lucu-lucuan, semacam lagu dari kata berantai yang suka dibuat permainan. Namun, jeng.. jeng.. Aku panas dingin saat baca cerita-cerita para pendahulu. Sungguh imajinasi yang luar biasa, jauh dari bayanganku.
.
Ternyata sebegitu cepatnya teman-teman lain merespon cerita, bagai air yang terus mengalir, aku pun akhirnya kebagian juga di hari pertama. Awalnya memang aku dapat bagian urutan ke-8, dikira masih jatah hari esok. Namun, aku naik menjadi urutan ke-7 karena temanku pada bagian tersebut ada halangan.
.
Alhasil, baru landing dari luar kota, aku pun langsung segera menulis. Entahlah nyambung atau tidak, pokoknya buat dulu deh. Kebetulan sepanjang perjalanan di udara pun sudah membayangkan cerita lanjutannya. Eh, qadarullah memang langsung aku yang kebagian melanjutkan. Alhamdulillah… Menjadi bagian dari lahirnya “Evatar Universe” dan penyumbang nama (Gandya). Mau baca? Nanti kalau sudah rampung aku info di www.bundytabercerita.com yaa.. 
.
Demikian, mengapa sertifikat ini begitu berarti. Ini sungguh tantangan yang luar biasa, selain dikerjakan dalam waktu singkat, kondisi terdesak, harus melanjutkan cerita orang lain dan fiksi yang alur ceritanya bukan aku banget. Hahaha… Namun, menjadi pengalaman yang tak ternilai harganya. Alhamdulillah…
.
#menulis
#kelasminat
#KaMiMenulis
#belajarmenulis
#KelasMinatMenulis
#institutibuprofesional
#KaMiMenulisIPDepok
#bundytabercerita 
#bundytamenulis
#evataruniverse
#ceritaberantai
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…