Langsung ke konten utama

Mudik Perdana


Mudik perdana aku luar biasa, seminggu sebelum Hari Raya tiba, kami sudah memulainya. Persiapan tentu sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya, maklum ya, bawa 1 anak yang sedang aktif-aktifnya sehingga persiapan baju ganti luar biasa. Kemudian bawa 1 bayi yang sudah tentu perlengkapannya tidak terkira. Ini mau mudik atau pindah rumah? Hahaha…

Perjalanan siang hari dimulai dari rumah kami yang berlokasi di Depok, berkumpul di Ciputat tempat ibu mertua. Sore ba’da shalat Ashar kami pun berangkat, 3 mobil dengan full bagasi siap melintasi Pantura. Tak terkira macet pun mulai terasa di tol bekasi, akhirnya kami pun berbuka puasa di rest area. Lanjut perjalanan melalui tol hingga Tegal. Sengaja memang kami singgah karena ada Bukde dari suami yang tinggal di sana.

Jika ditarik ke kebelakang, rencana mudik kami ini memang akan transit ke beberapa lokasi. Sebelum akhirnya akan berkumpul di Pekalongan untuk berlebaran tepat di hari pertama, jadi setelah dari Tegal kami berencana sahur di Semarang. Namun, kondisi Pak Supir alias Pak Suami yang mengantuk berat, sementara tak ada supir pengganti, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sejenak di perjalanan. Entah dimana lokasinya, yang pasti ini pun diikuti oleh 2 rombongan mobil lainnya.

Sekitar pukul 2 dini hari, mobil kami kembali meluncur menuju Semarang, aku lupa tepatnya di mana. Kalau sesuai rencana perjalanan tinggal satu jam lagi, tapi apa daya, Pak Suami dan keluarga lainnya pun lupa alamat dan keluarga yang dituju pun sulit dimintai informasi. Akhirnya nyasar ke sana dan ke sini, sesekali aku buka bekal kue dan minum untuk persiapan kalau saja kami tak sempat sahur. Benar saja, pukul 4 kami baru tiba dan langsung disuguhi makanan. Antara malu dan tidak ya sudahlah yaa.. Makan dulu, basa basi ngobrolnya setelah shalat Subuh.

Alhamdulillah kami sempat istirahat dan mandi di sana, sampai siang bersilaturrahim dengan keluarga besar di Semarang. Anak-anak pun senang karena banyak teman baru (keluarga juga) dan mainan tentunya. Hingga ba’dan shalat Dzuhur kami melanjutkan perjalanan ke Pati. Ini adalah kampung halaman Pak Suami, maksudnya bukan tempat lahir dan tempat masa kecil sih, tapi tempat Eyang dan Papa Mama mertua lahir hingga dewasa.

Perjalanan menuju Pati cukup lancar sehingga jelang berbuka puasa kami sudah sampai di sana. Seperti saat sahur, berbuka puasa dulu baru shalat Maghrib kemudian ngobrol-ngobrol. Hehe.. Menyenangkan sekali, karena di sini kami akan singgah lebih lama, sekitar 2 malam, sehingga bisa istirahat lebih santai. Akan ada beberapa keluarga yang akan kami kunjungi esok hari, dan beberapa kota di sekitar Pati. Tujuannya apalagi kalau bukan wisata kuliner dan belanja oleh-oleh. Hehe..

Sahur di Pati kemudian ziarah ke makam Para Eyang dan keluarga besar Pak Suami menjadi agenda di pagi hari. Alhamdulillah lokasi tak jauh, yakni makam keluarga tepat di belakang rumah. Setelah itu kami pun bersiap-siap untuk mengunjungi keluarga lain di Pati. Nama lokasi tepatnya di mana, sekali lagi aku lupa. Nanti ya kalau sempat aku tanya suami, aku edit lagi tulisannya. Hehehe...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2

•Game Level #2 Tantangan Hari #2• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan. . “Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?” Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja. “Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?” Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.” “Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.” “Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek. “Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.” “Ah, gak mau ah, ayam aja deh…” Pak suami yang duduk di samp