Langsung ke konten utama

Menua Bersama, Sehidup Sesurga


•Menua Bersama, Sehidup Sesurga•

Bismilah, alih-alihingin mendapat pengalaman seru &lucu, ke-LATAH-an kami utk ikutan menggunakan aplikasi FaceApp malah membuatku khawatir & sedih. Bolak-balik kuperhatikan gambar prediksi perubahan wajah kami saat tua, tak terasa air mataku menetes, lagi & lagi.
.
Yaa Allah, walaupun keriput tak dpt dipungkiri, smoga keceriaan kami ttp bs sperti ini. Smakin bahagia, tetap mesra & menua bersama. Slalu saling mencintai, setia mendampingi & selamanya melindungi. Sedih, saat sekali lg kuperhatikan gambar ini. Kekuatan kami tlah berkurang, secara fisik & psikis tentu kami akan mengalami perubahan.
.
Yaa Allah, proses kehidupan apa saja yg akan kami lalui hingga saat itu tiba? Bgmn cara kami menghadapinya? Air mataku jatuh lagi, seraya berdoa. Smoga Engkau selalu meluruskan niat kami utk hidup bersama, beribadah, menyempurnakan separuh agama. Baik di saat kami msh gagah, maupun di saat kami sdh lemah & lelah.
.
Yaa Allah, saat kuperhatikan foto ini tuk kesekian kali. Terlintas di benakku, bgmn kondisi anak2 kami ketika masa itu hadir? Kini derasnya air mata kian tak terbendung. Muncul perasaan khawatir bahkan takut. Apa yg sudah kami lakukan kod mereka? Apa yg telah kami berikan kod mereka? Apa yg slalu kami tanamkan kpd mereka? Serta kelalaian apa yg kami tlah lakukan hingga saat itu tiba? Astaghfirullahaladziim...
.
Yaa Allah,  ada amanah terbesar dalam hidup kami. Perubahan wajah kami yg mungkin cepat menua tak sebanding dgn kecepatan pertumbuhan anak2 yg kelak semakin dewasa. Kini aku semakin sadar, ketika masa itu tiba, kami akan dimintai pertanggungjawabannya. Langsung terlihat nyata di dunia & dirasakan hingga ke akhir masa.
.
Yaa Allah, lindungilah keluarga kami. Tuntunlah aku & suamiku agar bs menjalankan amanah yg Kauberikan dgn sebaik-baiknya. Jadikanlah anak2 kami sbg para penghuni surga yg kelak bs membuat kami menua dgn bahagia & mengantarkan kami bersama menuju Jannah. Aamiin Allahumma Aamiin.
.
#bundytabercerita #bundytaberdoa #cigofamily #bundytAyahigo #faceapp #faceappchallenge #muhasabahdiri #doa #menuabersama #sehidupsesurga #oldchallenge #agechallenge #agechallenge2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan