Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #4 Tantangan Hari #9


•Mochi & Leci•
.
Bismillah… Makan sejatinya adalah sebuah aktivitas yang dilakukan berdasarkan kebutuhan. Seperti yang sudah seringkali kita dengar, makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan ya?! Hehe… Namun, beragamnya jenis makanan di muka bumi ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua, ibu terutama, untuk mengenalkannya kepada anak.
.
Setiap anak tentu saja berbeda dengan anak lainnya dari sisi apapun, termasuk proses belajarnya. Kali ini aku mencoba melihat bagaimana Althaf (6 th) dan Albarra (2 th) mempelajari sebuah makanan baru. Sehingga mereka mau mencobanya dan menyukainya, yakni Mochi dan Leci.
.
Setelah kedua jenis makanan tersebut kukeluarkan dari bungkus dan untuk leci dikupas kulitnya, serta dibuang bijinya. Mereka pun bisa melihat secara utuh di dalam wadah. Althaf mulai memperhatikan dan bertanya tentang nama, rasa, jenis, dan bahan pembuatannya. Begitu juga dengan Albarra yang baru bisa bertanya berkali-kali, “Bun… Apa ini, Bun?” Sambil menunjuk makan yang ia maksud. Saat bunda jawab, “Ini Mochi, ini Leci, enak rasanya.” Ia langsung mengikuti, “Oci Ci Enak!”
.
Proses observasi Althaf lebih lama dibanding Albarra. Sesuai usianya, ia lebih memiliki banyak referensi juga tentang makanan. Aku bisa menjelaskan bahwa Mochi itu kalau digigit kenyal, rasanya manis, berisi kacang tumbuk, dan bagian luarnya ditaburi tepung sagu. Sedangkan Leci itu buah yang rasanya manis berair sedikit, tidak terlalu keras dan lembek, serta ada biji di dalamnya.
.
Setelah bertanya lalu mencoba, Althaf ternyata lebih suka Mochi dibandingkan dengan Leci, karena ada sensasi kacang di dalamnya dan saat dimakan rasanya sangat lembut. Sementara itu, Albarra langsung saja mencoba dengan memakan satu per satu makanan itu. Saat makan Mochi, ia terlihat terganggu karena lengket di gigi, jadi langsung dimuntahkan. Sedangkan Leci sangat ia sukai, sehingga berkali-kali langsung dilahap.
.
Demikianlah mungkin perbedaan anak Visual Kinestetik yang lebih membutuhkan waktu lama untuk mengamati saat proses belajar. Di lain pihak, ada anak Audio Kinestetik yang lebih mengikuti apa yang ia dengar terlebih dahulu. Dimana keduanya, baik Althaf dan Albarra sama-sama menggunakan jari-jari mereka untuk menekan makanan yang sedang dipelajari. Hihi… Lucunya kalian, MasyaaAllah...
.
#hari9
#gamelevel4
#ilovetolearn
#tantangan10hari
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional
#kuliahbundasayang
#kuliahBunSayIIP
#bundytabercerita 
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir