Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #4 Tantangan Hari #8








•Tour ke Balai Kota (Visual-Audio-Kinestetik)•
.
Bismillah… Hari ini judulnya “Dolan Bareng” bersama teman-teman Depok HEbAT Community ke Kantor Walikota Depok. Menyenangkan sekali, kantornya ramah anak. Ada perpustakaan yang dilengkapi area bermain anak indoor & outdoor. Selain itu, di beberapa gedung kantor juga dilengkapi dengan Kids Corner.
.
Awalnya Althaf (6 th) & Albarra (2 th) bermain ketangkasan, lalu beralih ke mainan-mainan yang mengasah motorik halus. Namun, setelah sesi Tour dimulai, Althaf terlihat semangat juga mengikuti instruksi, walaupun katanya sedikit bosan saat menonton video.
.
Althaf lebih memberikan atensi ketika pemandu memberi penjelasan. Hm… Anak dengan gaya belajar Audio Visual biasanya suka nih! Berbeda dengan Albarra Si Anak Kinestetik yang setiap tayangan video selalu bertanya, “Ini siapa, Bun? Itu apa, Bun?” Lalu berdiri dan gerak gerak.
.
Setelah menonton, masuk ke ruang baca. Althaf langsung bermain mobil-mobilan, tapi akhirnya bosan dan memilih-milih buku untuk dibaca. Tak kusangka ia sangat mandiri, aku sampai mencari-cari keberadaannya, ternyata sudah asik mojok baca buku. Hahaha…
.
Dari jauh kupanggil Althaf, tapi ia sama sekali tak menoleh, kecenderungan anak yang belajar dengan gaya Visual. Lain halnya dengan Albarra, yang lebih bergaya Audio. Setiap aku menyebutkan gambar hewan & menyebutkan namanya, ia selalu mengulang ucapanku persis dengan intonasi suaranya.
.
Saat berpindah-pindah kunjungan ke beberapa lokasi kantor walikota, Althaf seperti biasa tampak “kelebihan tenaga”. Kalau yang lain berjalan, dia berlari. Saat pemandu menjelaskan, dia melompat sambil melihat serta memegang ini dan itu dengan penasaran. Terlihat sekali Althaf cenderung belajar dengan gaya kinestetik.
.
Secara keseluruhan, Althaf tampak menikmati kegiatan Tour hari ini. Walaupun sepertinya dia belum paham betul fungsi dari kantor walikota itu sendiri. Jadi, kalau ditanya aktivitas apa hari ini yang paling menyenangkan? Jawabannya pertama adalah main di playground dan kedua adalah ke perpustakaan. Hehehe… 
.
#hari8
#gamelevel4
#ilovetolearn
#tantangan10hari
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional
#kuliahbundasayang
#kuliahBunSayIIP
#bundytabercerita 
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir