Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #4 Tantangan Hari #7


•Memperbaiki Rantai Sepeda (Visual-Audio-Kinestetik)•
.
Bismillah… Hari ini aku mengajak anak-anak menjenguk anak tetangga yang baru pulang dirawat di rumah sakit. Kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah, jadi aku memutuskan untuk berjalan kaki bersama Albarra, sementara Althaf naik sepeda bersama teman.
.
Namun saat pulang, Althaf (6 th) mengalami insiden. Rantai sepedanya keluar dari jalur, sehingga tak lagi berfungsi dengan baik. Aku pun sedikit panik karena belum pernah menanganinya, sehingga berinisiatif untuk menggiring sepeda sampai ke rumah. Berbanding terbalik dengan Althaf, ia terlihat santai dan langsung membawa sepeda ke tempat yang teduh.
.
Sambil mengecek rantai sepeda ia pun berkata, “Tenang aja, Bun! Aku bisa perbaiki kok, aku pernah lihat Oskar cara perbaikinya.”
Dalam hati, Duh malu banget ini ketangguhan anak mengalahkan emaknya.
Putar sana, putar sini pedal dan ban sepeda, tangan dan kakinya pun kotor terkena oli sepertinya. Sampai 2 menit berlalu belum terlihat tanda-tanda menyerah.
.
Aku perhatikan Althaf sambil mengingat-ingat dan mencoba memperbaiki rantai itu sambil berkata lirih, “Ini kan biasanya diputar ke sini, rantainya yang ini diangkat dulu.” Hm… Sesekali ia tampak sedang mengingat rekaman Visual saat melihat temannya memperbaiki sepeda dan mengajarinya ketika rantai sepeda lepas. Nah, kalau diperhatikan caranya mengingat sambil bicara, ini salah satu ciri gaya belajar Audio juga.
.
Tak hanya itu, kegigihannya mencoba berbagai cara untuk memperbaiki rantai sepeda adalah sebuah proses belajar Kinestetik. Ia terus mencoba walau beberapa kali sepeda gagal dijalankan. Setelah berusaha lagi, hasilnya Alhamdulillah Althaf berhasil memperbaikinya dan berfungsi seperti semula. Masyaa Allah… Tabarakallah…
.
Ternyata dari hal yang tak terduga sekalipun aku bisa terus mengamati gaya belajar Althaf. Sejauh ini masih dominan Visual yang diikuti dengan Audio dan Kinestetik. Bismillah, semoga setiap proses belajar bermanfaat ya, Nak! Dengan memahaminya, insyaaAllah akan memudahkan kita untuk mempelajari lagi hal-hal lain, yang lebih banyak, lebih besar, lebih berarti dan lebih bermanfaat tentunya.
.
#hari7
#gamelevel4
#ilovetolearn
#tantangan10hari
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional
#kuliahbundasayang
#kuliahBunSayIIP
#bundytabercerita 
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir