Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #4 Tantangan Hari #3

 •Mainan Multifungsi (Visual-Auditori-Kinestetik)•
.
Bismillah… Hari ini rasanya padat sekali, padahal cuma pergi 3x24 jam. Aduh, maafkan bunda hari ini super sibuk ya, Nak! Walaupun dari pagi kita bersama-sama, tapi baru malam hari bisa fokus membersamai kalian bermain. Kemarin sebelum pergi, Althaf (6th) minta dibelikan mainan semacam bentuk angka yang bisa berubah menjadi pesawat, mobil, kapal, tank, dll.
.
Beberapa pertimbangan sih, selain memang sebagai mainan, bagus juga untuk melatih motorik halus saat mengubah-ubah bentuknya. Secara visual Althaf terlihat fokus mengikuti petunjuk yang diberikan. Setelah Albarra (2 th) ikut bermain, ternyata bisa juga digunakan untuk belajar mengenalkan warna, angka, serta macam-macam alat transportasi.
.
Apakah Albarra langsung hafal? Tentu saja tidak. Hahaha… Apalagi warna dan angka, sekedar mengenalkan saja akan nama-nama yang ada. Namun, dengan ini terlihat bahwa gaya belajar Albarra lebih fokus ke audio. Dia sangat terkesan dengan suara pesawat yang diperankan Althaf saat salah satu mainan berbentuk pesawat dan mobil sudah jadi. Ia pun mengikuti suara yang didengar, “Ngeeng… Ngeeng… Brum… Brum…” Sambil sesekali menggerakkannya.
.
Jadi, hasil ngoprek mainan multifungsi hari ini, aku mengamati bahwa Althaf saat bermain pun lebih fokus pada aspek visual dan kinestetik. Matanya fokus pada petunjuk gambar dan tangannya asyik membentuk mainan. Sementara itu, Albarra lebih dominan pada aspek audio dan kinestetik. Ia terlihat lebih heboh saat mengikuti suara dan gerakan alat-alat transportasi daripada memperhatikan bentuk warna dan angka.
.
#hari3
#gamelevel4
#ilovetolearn
#tantangan10hari
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional
#kuliahbundasayang
#kuliahBunSayIIP
#bundytabercerita 
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir