Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #4 Tantangan Hari #2



•Menonton Video Edukasi (Visual-Auditori-Kinestetik)•
.
Bismillah… Hari ke-3 Althaf (6 th) dan Albarra (2 th) masih menginap di rumah nenek dan kakek. Yeah…!!! Terbayang juga aku dulu waktu liburan sekolah, mudik adalah salah satu momen yang sangat dinantikan. Namun, proses belajar tetap harus diperhatikan. Selain berbagai aktivitas spontan yang seru bersama kakek, nenek, dan tante, ada pula aktivitas titipan bunda, nih! Hehehe... Apakah itu?
.
Aktivitas menonton video edukasi, isinya ada cerita, lagu-lagu dengan muatan moral atau pengetahuan. Yaa.. Ada juga sih yang cuma sekedar hiburan, supaya anak-anak bisa ikutan nyanyi dan joget-joget. Hehe.. Sebelum berangkat, aku dan Althaf sudah memilih video-video yang hendak ditonton. Sejak kemarin dan hari ini, Althaf dan Albarra pun ada waktu khusus untuk menonton ditemani nenek dan tante.
.
Aku pun mengamati video kiriman saat mereka sedang asik menonton. Terlihat Althaf begitu fokus dengan apa yang ia lihat, sampai-sampai seperti tak berkedip dan tak ada pergerakan. Namun, jika ada hal yang seru, ia merespon dengan mengikuti gerakannya atau berekspresi dengan gerakan. “Ciaatt… Gubrak…” Berbeda dengan Albarra yang terkadang mengikuti suara dari apa yang ditonton, ia pun lebih sering bergerak mengikuti irama musik dalam video.
.
Pada aktivitas kali ini, Althaf cenderung belajar dengan apa yang ia lihat secara visual, dengan sesekali kinestetik sebagai respon dari apa yang dilihat. Sementara itu, Albarra lebih dominan pada audio dan kinestetik. Ia sangat menikmati saat ada irama lagu, langsung saja bernyanyi sambil berjoget. Aduh, kalau dilihat video-nya Si Embul lucu banget dehh.. MasyaaAllah… Tabarakallah...
.
#hari2
#gamelevel4
#ilovetolearn
#tantangan10hari
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional
#kuliahbundasayang
#kuliahBunSayIIP
#bundytabercerita 
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…