Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #4 Tantangan Hari #16

•Jam Tangan•
.
Bismillah… Berawal dari waktu bermain sore yang seringkali terlewat, akhirnya Althaf (6 th) belajar tentang jam. Sebelumnya sudah diingatkan, jika terdengar suara murotal di masjid berarti sudah menjelang Maghrib, jadi harus segera pulang. Namun, patokan waktu ini tak terlalu efektif, entah karena terlalu asik bermain atau memang Althaf tak terlalu bisa menghiraukan peringatan secara Auditori.
.
Akhirnya aku beralih pada jam tangan sebagai pengingat. Pada mulanya, ia hanya mengetahui jam 1, 2, 3, dst. Lama kelamaan belajar terkait menit, karena waktu bermain di luar sekitar 1 jam 30 menit. Jadi, tanpa sengaja kini Althaf sudah paham mengenai waktu. Belum sampai belajar perhitungannya ya, hanya sekedar mengetahui batasan waktu saja.
.
Tentu pada kondisi ini terlihat proses belajar Althaf, yang lebih mudah “deal” dengan apa yang ia lihat secara Visual. Walaupun terkadang dipasang alarm juga sih di jam tangannya untuk mengingatkan saat waktu bermain selesai. Hehehe… Ini anakku aja yang suka banget main sampai lupa waktu atau gimana sih?
.
Sekarang, gaya banget Althaf sekolah pakai jam. Tujuannya mengukur waktu berangkat ke sekolah. Kalau berangkat pukul 06.30 WIB, sampai di sekolah pukul jam berapa? Begitu juga  berangkat pukul 07.00 WIB. Ia jadi belajar sendiri manajemen waktu, bagaimana caranya agar bisa ontime dan bagaimana kemungkinan untuk terlambat. MasyaaAllah… Tabarakallah...
.
#hari16
#gamelevel4
#ilovetolearn
#tantangan10hari
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional
#kuliahbundasayang
#kuliahBunSayIIP
#bundytabercerita 
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir