Langsung ke konten utama

Aliran Rasa Proses Meningkatkan Kecerdasan Anak


•Aliran Rasa Saat Meningkatkan Kecerdasan Anak•
.
Bismillah… Tujuh belas hari telah dilalui sebagai upaya meningkatkan kecerdasan anak. Namun, rasanya masih belum bisa benar-benar optimal mencapai tujuan. Hal yang selama ini aku lakukan sepertinya belum direncanakan dengan baik. Belum konsisten untuk mencapai tujuan, alias “se-ketemu-nya” ide saja. Nah, sekiranya itu ada insight yang bisa diambil, akhirnya itu yang dijalankan.
.
Selayaknya sebuah proyek, “family project” sebagai sarana meningkatkan kecerdasan anak sebaiknya dibuat lebih rinci. Tujuannya, aktivitasnya, hingga evaluasi yang tentu pada setiap prosesnya melibatkan seluruh anggota keluarga. Sementara yang saya lakukan selama ini hanya berdua saja dengan objek, yaitu Althaf (6 th), sedangkan Albarra (2 th) tentu anya mengikuti apa yang saya arahkan. Di lain pihak, Pak Suami hanya membantu dalam pelaksanaannya saja.
.
Namun demikian, segala aktivitas yang sudah kami laksanakan selama 17 hari kemarin bukan tanpa arti. Tentu saja banyak hal-hal baik dan manfaat yang juga dihasilkan dari pelaksanaan aktivitas. Ada yang tujuan akhirnya tercapai, ada yang belum. Namun, ada proses pembelajaran di sana, juga memberikan arti bagi upaya meningkatkan kecerdasan anak.
.
Bismillah… Semoga ke depannya proses yang berlangsung kemarin dapat terus dilanjutkan dengan konsisten. Berbagai perbaikan, pembenahan konsep, dan penyertaan evaluasi akan dimaksimalkan, sehingga dapat memberikan hasil yang memuaskan, sesuai tujuan. InsyaaAllah… Terima kasih @institut.ibu.profesional telah memberikan inspirasi.
.
#aliranrasa
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#meningkatkankecerdasananak
#aliranrasameningkatkankecerdasananak
#institutibuprofesional
#bundytabercerita
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2

•Game Level #2 Tantangan Hari #2• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan. . “Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?” Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja. “Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?” Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.” “Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.” “Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek. “Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.” “Ah, gak mau ah, ayam aja deh…” Pak suami yang duduk di samp