Langsung ke konten utama

Aliran Rasa - Game Level #4 - Meningkatkan Kecerdasan Anak


•Aliran Rasa dalam Memahami Gaya Belajar Anak•
.
Bismillah… Berakhir sudah tantangan 10 hari sebagai ikhtiar memahami gaya belajar anak. Namun, kenyataannya, 17 hari tantangan dilakukan pun aku belum bisa benar-benar memastikan apa gaya belajar yang dimiliki Althaf dan Albarra. InsyaaAllah proses pengamatan akan terus aku lakukan seiring dengan proses belajar yang dilakukan sehari-hari.
.
Akan tetapi, sejujurnya aku kurang puas dengan pelaksanaan tantangan pada level #4 ini. Dengan beberapa kesibukan lainnya di waktu yang bersamaan, aku jadi kurang mempersiapkan diri. Aktivitas tantangan pun dilakukan tanpa membuat sebuah perencanaan, alhasil semuanya serba kebetulan dan seadanya. Istilah kerennya sih insidental. Bener gak tuh? Haha...
.
Dari sebagian besar aktivitas belajar, atau bermain sambil belajar yang dilakukan, Althaf terlihat lebih dominan memiliki gaya belajar Visual Kinestetik. Sementara Albarra yang masih banyak melakukan eksplorasi, terlihat bergaya Auditori Kinestetik. Entah apakah memang masih mengikuti proses perkembangan secara umum sesuai usia atau memang tergantung stimulasi yang ada.
.
Satu hal yang pasti, gaya belajar yang berhasil diamati tidaklah menjadi sebuah hal yang “saklek”. Termasuk ketika hasil tes psikologi yang sebelumnya menyatakan bahwa Althaf memiliki gaya belajar Visual Auditori. Walaupun terlihat gaya yang lebih dominan, aku masih perlu terus memberikan berbagai aktivitas yang dapat melibatkan aspek kecerdasan Visual, Auditori, dan Kinestetik.
.
Sesungguhnya aku yakin, bahwa setiap anak tetap dapat belajar dengan cara Visual, Auditori, maupun Kinestetik. Hanya saja jika kita dapat mengetahui, gaya belajar apa yang lebih dominan, maka proses belajar pun dapat lebih optimal. InsyaaAllah… Semoga Allah SWT selalu mudahkan dan mampukan Althaf & Albarra dalam belajar, untuk dunia maupun Akhirat. Aamiin Allahumma Aamiin.
.
#aliranrasa
#gamelevel4
#ilovetolearn
#tantangan10hari
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional
#aliranrasagamelevel4
#kuliahbundasayang
#kuliahBunSayIIP
#bundytabercerita 
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan