Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #3 Tantangan Hari #5



•Rejeki Es Teler•
.
Bismillah… Malam sekitar pukul sembilan, aku ingin sekali es teler. Akhirnya, sekeluarga mencari di sepanjang Jalan Raya Cinangka - Parung. Lokasi pertama yang dituju, ternyata tutup. Althaf pun ikut kecewa, aku sampaikan kepadanya, “Berarti belum rejeki Bunda minum Es Teler, Mas…!”
“Emang rejeki apaan sih, Bun?”
“Rejeki kita semua sudah ditentukan Allah SWT, apa pun bentuknya, uang, makanan, kesehatan, anak sholeh kayak kamu juga kan rejeki.”
“Yah berarti pulang dong ini?”
.
Tiba-tiba, Pak Suami yang menyetir membelokkan mobil ke sebuah restoran yang 30 menit lagi akan tutup. Dengan percaya diri kami pun masuk dan alhamdulillah ternyata ada rejeki bunda makan Es Teler di sini. Sementara itu, Althaf yang memesan Snack Sosis Bakar & French Fries harus menelan kekecewaan, karena stok sudah habis.
“Yah! Gak ada, aku pesan apa dong?” Nada suara Althaf terlihat kesal.
“Coba Mamas pesan yang lain, minuman aja mungkin kan sudah mau tutup nih restorannya.”
“Yaudah Jus Mangga aja deh.”
.
Akhirnya kami pun bisa menikmati pesanan yang sudah datang.
“Mas, masih kesel ya tadi snack gak ada?”
“Iya! Padahal aku mau.”
“Nah, berarti rejeki kamu itu bukan snack untuk malam ini. Tetapi jus mangga. Yasudah gapapa, besok kita kembali lagi kalau kamu masih mau, tapi jangan terlalu malam.”
“Nanti gak rejeki lagi.”
“Walaupun rejeki sudah ditetapkan Allah SWT, kita harus tetap berusaha. Kayak Bunda tadi, pindah tempat ternyata ada rejekinya. Kamu juga, mungkin bukan hari ini tapi besok. Atau mungkin juga bukan di sini, tapi di tempat lain.”
“Iya deh.”
.
Alhamdulillah Althaf akhirnya mendapatkan pelajaran tentang takdir dan rejeki. Walaupun tampaknya belum dipahami secara mendalam, InsyaaAllah ini menjadi awal yang baik untuk perkembangan KECERDASAN SPIRITUAL DAN EMOSIONAL Althaf. Ke depannya kita matangkan lagi ya, Nak! Bismillah...
.
#hari5
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#meningkatkankecerdasananak
#institutibuprofesional
#bundytabercerita
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan