Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #3 Tantangan Hari #3


•Percobaan dengan Telur•
.
Bismillah… Pagi-pagi Althaf (6 th) minta digorengin telur untuk sarapan. Kalau masak telur dadar dan telur mata sapi sih sudah pernah, jadi aku berniat untuk melakukan proses sebelumnya bersama-sama, yaitu memilih telur untuk dimasak. Kebetulan di kulkas ada stok telur seminggu yang lalu dan telur yang baru saja dibeli.
.
Dari salah satu buku yang pernah kami baca (nanti InsyaaAllah di-share ya review bukunya) ada penjelasan tentang menentukan usia telur. Semakin lama telur tidak dimasak, maka akan semakin berkurang pula kualitasnya, bahkan telur yang sudah terlalu lama, tidak layak lagi untuk dikonsumsi.
.
Dengan menyiapkan dua buah gelas bening berisi air, percobaan siap dilaksanakan. Satu per satu Althaf memasukkan telur ke dalam gelas. Pada gelas (kanan gambar) berisi telur yang baru, sementara gelas (kiri gambar) berisi telur yang lama. “Jika diperhatikan tak banyak perbedaan ya?” Aku berucap seraya mengajak Althaf berdiskusi.
.
“Iya, Bun! Kalau telur yang sudah lama, biasanya mengambang ke tengah atau mengapung ke atas.” Jelas Althaf sambil membolak-balik buku.
“Alhamdulillah berarti kedua telurnya masih boleh dimakan!”
“Eh, Bun! Bener nih katanya kan kalau sudah seminggu, bagian telur yang besar ada di atas. Tuh kan sama dengan yang telur lama ini posisinya.”
.
Althaf pun kembali mencocokan teori dalam buku dengan percobaan telurnya, alhamdulillah project experiment sederhana ini bisa juga meningkatkan KECERDASAN INTELEKTUAL. Bahkan ia tak berpuas diri, ingin tahu tentang massa jenis air dan telur. MasyaaAllah… Tabarakallah… KECERDASAN MENGHADAPI TANTANGAN.
.
Walaupun belum memahami secara jelas, ia pun kini bisa membedakan bahwa telur di dalam air garam akan terdorong ke atas karena massa jenis air garam lebih besar dari massa jenis telur. Sudah segitu aja, karena bunda belum bisa menjelaskan juga tentang ini, hahaha… Aduh malu deh sama anak karena pas sekolah masih suka nyontek, ada yang bisa bantu menjelaskan? Ditunggu yaa..
.
#hari3
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#meningkatkankecerdasananak
#institutibuprofesional
#bundytabercerita
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story