Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #3 Tantangan Hari #2


•Kopi Untuk Ayah•
.
Bismillah… Tantangan di Game Level #3 selanjutnya kami lakukan terinspirasi (ceilahh..) dari permintaan ayah tadi malam. “Bun, Ayah mau dibuatkan kopi dong!”
Tiba-tiba muncul ide project spontan, aku pun menyolek Althaf (6 th) yang sedang duduk di sebelah, “Mas, masih inget cara bikin teh manis?”
“Masih lah, aku kan bikinin Bunda setiap hari buat buka puasa kemarin!” Jawab Althaf setengah jumawa.
Aku pun langsung menantangnya, “Kalau sekarang bikinin Ayah kopi, mau ga?”
“Mauu..! Ayo, Bun!” Jawab Althaf semangat.
.
Akhirnya kami pun berencana membuat beberapa jenis minuman, kopi, teh, susu, serta sirup. Awalnya aku menjelaskan tentang konsep air mentah dan air matang, walaupun ada air dari galon yang siap minum, Althaf perlu tahu bahwa air mentah perlu dimasak hingga mendidih agar bisa dikonsumsi. Tandanya apa? Sambil tetap aku dampingi, ia melihat air yang sudah mengeluarkan gelembung udara.
.
Setelah mendidih dan dibiarkan sejenak, barulah kami meramu minuman yang hendak disajikan. Masing-masing dilakukan dengan cara yang berbeda, ada yang perlu dilarutkan dengan air panas, ada juga yang dengan air hangat dan air biasa. Untuk mengasah KECERDASAN INTELEKTUAL, aku pun bertanya, “Kenapa kalau kopi harus air panas sedangkan teh dan susu bisa air hangat saja?” Althaf terlihat masih ragu menjawab.
.
“Kopi harus dengan air panas karena butirannya lebih padat, tapi tak perlu langsung saat air mendidih karena konon akan menimbulkan rasa pahit.” Penjelasanku sekenanya. Hehe..
Althaf menambahkan dengan analisanya, “Jumlah yang perlu dilarutkan juga lebih banyak kan, Bun? Ada kopi dan gula.”
“Iya bisa juga… Namun, sesungguhnya agar nutrisi yang ada di dalam teh dan susu juga tidak hilang dengan air yang terlalu panas. Pokoknya gelas ini masih bisa kita sentuh, gak terlalu panas.”
.
Demikian penjelasan sederhana untuk Althaf, setidaknya kini dia tahu aturan penggunaan air beserta takarannya. Misalnya, komposisi kopi kesukaan ayah, gula untuk teh manis, jumlah susu bubuk untuk satu gelas, serta sirup. Nah, untuk sirup ini pada awalnya kurang manis, tapi Althaf tak patah semangat dan hilang akal. Ia langsung menambahkan satu sendok makan lagi sirup ke dalam gelas dan berkata, “Nah, ini baru pas rasanya…” MasyaaAllah… Tabarakallah... Alhamdulillah terlatih juga KECERDASAN MENGHADAPI TANTANGAN.
.
#hari2
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#meningkatkankecerdasananak
#institutibuprofesional
#bundytabercerita
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir