Langsung ke konten utama

BunSay - Game Level #3 Tantangan Hari #15


•Althaf Sang Kakak•
.
Bismillah… Akhir-akhir ini aku merasa, semakin hari Albarra (2 th) semakin mirip dengan kakaknya, Althaf (6 th). Semua ditiru, mulai dari ucapan hingga perbuatan. Mulai gaya bicaranya, cara bermainnya, hingga segala kebiasaannya. Hal-hal baik tentu ada, bahkan banyak, terutama terkait kemandirian. Di usianya saat ini, Albarra sudah bisa makan dan minum sendiri, mandi, sikat gigi, pakai dan buka baju. Walaupun masih memerlukan bantuan tentunya.
.
Di sisi lain, aku pun semakin khawatir jika yang ditiru adalah hal-hal yang kurang baik atau bahkan yang membahayakan untuk anak seusianya. Althaf mungkin sudah bisa meloncat ke sana ke sini mengikuti gaya film kartun favoritnya, tetapi akan berbeda jika yang loncat dari ketinggian 1 meter itu adalah Albarra. Lalu, aku pun mulai memikirkan bagaimana cara memberi Althaf pengertian akan hal ini.
.
Akhirnya, aku memutuskan untuk diskusi dengan Althaf. Mengobrol santai sambil memperhatikan Albarra, “Mas, lihat deh Albarra mainan Tobot gitu, bisa dia ya? Berubah dari mobil jadi robot, pinter ya?”
“Yaa itu kan karena ngikutin aku, Bun!”
“Oiyah, emang ya Albarra itu segala ngikutin mamas terus.”
“Iya, tapi kadang aku males dia ambil semua mainan yang aku pegang!”
“Ya namanya juga adik, lihat mamasnya kok keren gitu main itu, jadi mau.”
“Kadang-kadang aku gak keren juga adek ngikutin aku, Bun…!”
“Nah, itu dia. Apalagi kalau Mamas lagi beraksi gitu, loncat, terus gaya seperti pukul dan tendang gitu. Adek belum ngerti, jadi harus hati-hati nanti kalau ditiru kan bahaya.”
“Ya aku kan seneng Bun, yang ekstrim gitu…”
“Boleh, tapi harus lihat kondisi, jangan sampai ditiru sama adek yang bahaya-bahaya.”
.
Diskusi pun panjang kali lebar, tentu tak hanya aspek KECERDASAN INTELEKTUAL saja yang menjadi sasaran project diskusi kali ini, tetapi KECERDASAN EMOSIONAL. Bagaimana seorang kakak bisa menempatkan dirinya menjadi sosok panutan bagi Sang Adik. Tidak berusaha menjadikannya lebih dewasa di atas usianya, tetapi menempatkan dirinya bahwa dia adalah seorang kakak yang perlu memberi tauladan baik bagi adiknya. InsyaaAllah… Aamiin...
.
#hari15
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#meningkatkankecerdasananak
#institutibuprofesional
#bundytabercerita
#bundasayang
#bunsayiip
#iipdepok
#bunsay
#iip
.
@institut.ibu.profesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan